"KUMPULAN REFERENSI PEMBELAJARAN TENTANG PENGERTIAN"

Rabu, 03 Februari 2021

Konsep, Teknik, Membaca, dan Menulis Not Bernyanyi Satu Suara (Unisono) secara Berkelompok



Daftar Isi [Tampil]

Seni Budaya | Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan materi seputar konsep dasar bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok, teknik vokal, bernyanyi satu suara, membaca dan menulis not, dan teknik bernyanyi bernyanyi satu suara secara berkelompok. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang konsep dasar bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok, teknik vokal, bernyanyi satu suara, membaca dan menulis not, dan teknik bernyanyi bernyanyi satu suara secara berkelompok.

Konsep, Teknik, Membaca, dan Menulis Not Bernyanyi Satu Suara (Unisono) secara Berkelompok

Gambar: freepik.com

A. Konsep Dasar Bernyanyi Unisono

1. Pengertian Bernyanyi

Menyanyi merupakan aktivitas yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Menyanyi jenis ini sering disebut dengan menyanyi perseorangan. Menyanyi secara unisono tidak dapat dilakukan seorang diri tetapi dilakukan oleh sekumpulan orang dengan satu suara. Saat menyanyi unisono dibutuhkan kerjasama dan saling peduli sehingga suara yang ditimbulkan menjadi harmoni.

Bernyanyi merupakan aktivitas mengeluarkan suara yang bernada. Bernyanyi juga merupakan aktivitas melantukan suara dengan nada-nada yang beraturan. Bernyanyi dapat dilakukan dengan diiringi alat musik. Bernyanyi tanpa iringan alat musik disebut akapela. Bernyanyi dapat dilakukan secara mandiri dan kelompok. Bernyanyi secara sendiri disebut solo, sedangkan bernyanyi secara berkelompok disebut koor.

Widodo (Widodo, 2016) menjelaskan bahwa Uni adalah satu sedangkan sono adalah suara. Jadi secara singkat arti kata unisono adalah satu suara. Pengertian unisono secara lengkap adalah teknik bernyanyi dimana satu suara atau satu nada dinyanyikan oleh banyak orang. Pengertian unisono dalam bernyanyi adalah memainkan nada dalam satu suara. Contohnya dalam paduan suara yang terdapat jenis suara tenor, sopran, alto dan bas jika pada notasi lagu ketemudengan tanda unisono maka semua suara itu melebur menjadi satu atau dinyanyikan secara bersama-sama.

Sedangkan pengertian unisono paduan suara acapela adalah paduan suata yang menggunakan satu jenis suara saja. Contohnya suara wanita atau suara pria saja. Istilah unisono berasal dari bahasa Italia yang berarti satu suara. Cara menyanyi dengan unisono adalah cara paling sederhana utuk menyanyi bila ada dua atau lebih penyanyi.

Contoh menyanyi unisono adalah pada paduan suara. Bila semua penyanyi dalam paduan suara memainkan nada sama maka cara menyanyi ini disebut unison (Susan, A. 2015). Selain dalam menyanyi, istilah unisono juga bisa dipakai dalam memainkan alat musik. Bila dia atau lebih alat musik dimainkan untuk langu tertentu dengan nada yang sama maka ini juga disebut unisono. Warisan budaya Indonesia beraneka ragam.

Lagu-lagu daerah merupakan kekayaan dan warisan budaya Indonesia. Warisan budaya Indonesia dikelompokkan menjadi warisan alam, cagar alam atau situs, dan karya tidak benda. Warisan budaya yang telah diakui dunia (UNESCO) antara lain Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, TamanNasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Leuser di Aceh, Candi Borobudur dan Prambanan, Situs manusia purba di Sangiran, wayang kulit, keris, batik, angklung, subak di Bali, noken dari Papua, dan tari Saman dari Aceh (Purnama. 2017).

Bernyanyi unisono adalah bernyanyi satu suara, bernyanyi unisono juga bermakna bernyanyi satu suara seperti menyanyikan melodi suatu lagu. Partitur lagu bernyanyi unisono hanya melodi pokoknya saja. Lagu daerah yang merupakan warisan budaya dapat dinyanyikan secara unisono.

Banyak masyarakat dari beberapa suku di Indonesia yang hanya terbiasa bernyanyi dalam satu suara, yaitu sesuai dengan melodi pokoknya saja. Lagu daerah yang ada di setiap provinsi merupakan warisan budaya. Mengenal budaya di setiap daerah tidak harus dengan kita berkunjung ke daerah tersebut.

Banyak yang kita pelajari dari sebuah lagu daerah tersebut, kita dapat mengerti bahasa mereka walaupun tidak semahir kalau kita tinggal disana, dan setiap lagu yang diciptakan di setiap daerah sebagai warisan budaya sangat mengandung nilai-nilai yang baik. Dalam seni tarik suara, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan kualitas suara yang merdu, indah dan powerful, yaitu teknik-teknik dasar dalam mengolah vokal yang baik dan benar.

Desyandri (Desyandri, 2011) menyebutkan bahwa menyanyikan sebuah lagu diperluhkan latihan vokal agar kita dapat mengetahui tinggi rendahnya sebuah nada, sehingga terjadi suatu keselarasan antara nada dan suara. Menjadi seorang penyanyi yang handal, tidak terlepas dari kata melatih atau mengolah vokal.

Untuk memperoleh kemampuan dalam mengolah vokal yang baik dan benar, kita bisa melakukannya sendiri atau dipandu oleh seorang tenaga profesional yang memang memiliki kemampuan dalam bidang olah vokal. Melatih vokal dengan baik dan benar sangat besar manfaatnya bagi kita yang memiliki profesi sebagai penyanyi. Melatih vokal, selain membentuk karakter vokal kita, hal ini pun juga dapat melatih pernapasan dalam bernyanyi karena dibutuhkan nafas yang baik dan teratur.

Selain itu, dengan melatih vokal, kita akan lebih pekah dengan nada-nada rendah maupun nada-nada tinggi jika disertai dengan alat musik. Olah vokal juga bisa melatih intonasi dan keselarasan suara dengan nada dan musik yang mengiringi. Seseorang yang memiliki suara yang bagus tetapi jika tidak di sertai dengan latihan vokal, maka keselarasan suara dengan nada tidak akan terjalin secara harmonis, sehingga kedengarannya selalu ada false. 

2. Manfaat Bernyanyi Unisono

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dalam bernyanyi. Adapun manfaat-manfaat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Mengatasi masalah demensia

Manfaat pertama bernyanyi digunakan sebagai terapi untuk membantu mengatasi demensia. Demensia adalah menurunnya kemampuan otak untuk melakukan fungsi dasar, seperti berpikir, mengingat, berbicara, dan membuat keputusan. Bernyanyi melibatkan berbagai fungsi otak yang melibatkan organ lain, seperti telinga, pita suara, dan bagian tubuh lain jika memainkan alat musik. Hal ini ternyata berdampak positif pada mereka yang sedang dalam pengobatan demensia. Bernyanyi dapat merangsang jaringan saraf otak untuk bekerja lebih aktif. Selain itu, saat bernyanyi, otak akan menggali memori untuk melafalkan lirik dari lagu-lagu yang pernah didengar yang dapat memberi harapan dan perasaan positif bagi pengidap demensia.

2. Melawan stres

Manfaat selanjutnya dari bernyanyi adalah mengurangi stres. Hal ini terbukti ketika bernyanyi, kadar hormon kortisol atau hormon stres dalam tubuh seseorang dapat menurun. Bernyanyi juga dapat membuat Anda merasa lebih santai, senang, nyaman, lega, dan suasana hati juga membaik. Kondisi ini juga berlaku bagi mereka yang dalam kesehariannya tidak begitu suka menyanyi.

3. Mencegah kecemasan

Menurut Katie Ziskind, terapis psikologi dari Connecticut, menyatakan bahwa bernyanyi sambil mendengarkan musik bisa membuat tubuh melepaskan hormon oksitosin dalam jumlah banyak keluar. Hormon oksitosin adalah hormon cinta, yang bisa didapat dari jatuh cinta, berhubungan intim, dan juga saat Anda memeluk seseorang. Bernyanyi dapat mengurangi gejala kecemasan berlebih karena memunculkan efek relaksasi dari hormon oksitosin itu sendiri.

4. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Anda yang sering bernyanyi berpotensi tidak mudah terserang penyakit karena bernyanyi dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Tanpa disadari, ketika bernyanyi, tubuh akan secara alamiah mengeluarkan kelenjar yang memiliki fungsi sebagai antibodi. Bernyanyi bisa menjadi pilihan alternatif, selain olahraga dan mengonsumsi makanan bergizi, guna menjaga daya tahan tubuh.

5. Mencegah penuaan dini

Ketika sedang bernyanyi, otot-otot wajah akan mengalami pergerakan dan tertarik. Secara tidak langsung hal ini memberikan manfaat bagi kesehatan. Bernyanyi mampu mencegah penuaan dini, terutama di area wajah. Otot dan kulit wajah menjadi kencang dan elastis sehingga tidak cepat keriput dan membuat wajah senantiasa awet muda.

6. Meningkatkan kemampuan menelan

Ketika bernyanyi, bagian mulut dan tenggorokan akan bergerak terus. Hal ini apalagi secara teratur dilakukan, ternyata dapat membuat kemampuan kita dalam menelan makanan menjadi meningkat. Bernyanyi mampu mempermudah kita mengolah makanan di dalam mulut dan menelannya.

7. Menjaga kinerja sistem pernapasan

Bernyanyi merupakan aktivitas aerobik yang bermanfaat bagi sistem pernapasan. Bernyanyi mampu meningkatkan pasokan udara di saluran pernapasan bagian atas. Hal ini berguna membersihkan dan mencegah perkembangbiakan bakteri yang bisa mengganggu kinerja sistem pernapasan. Bernyanyi juga dipercaya mampu mengatasi masalah lainnya yang berkaitan dengan sistem pernapasan, yaitu mendengkur saat tidur.

8. Memperlancar sirkulasi darah

Menurut penelitian The Alzheimer's Society pada 2015 menyatakan bernyanyi dapat memperlancar sirkulasi darah. Hal ini karena adanya aktivitas pertukaran oksigen selama bernyanyi. Bernyanyi juga berfungsi meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.

B. Teknik Vokal

Berikut ini adalah teknik yang bisa kalian gunakan dalam mempraktikkan teknik vokal bernyanyi satu suara unisono. Adapun teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut.

1. Organ Penggerak

Organ tubuh ini berfungsi menggerakkan serta mendorong udara sehingga mampu menggerakkan pita suara dan menghasilkan suara. Bagian tubuh yang termasuk organ penggerak adalaha sebagai berikut.

a. Paru-Paru

Paru-paru berfungsi menghirup udara. Udara tersebut, setelah dimanfaatkan untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh dalam aktivitas pernapasan. Sisanya diembuskan keluar melalui tenggorokan dan hidung. Embusan udara inilah yang dimanfaatkan untuk menggetarkan pita suara sehingga menghasilkan suara.

Paru-paru terletak dibagian rongga dada bagian atas, otot dan rusuk membatasi bagian samping dan diafragma membatasi bagian dibawah paru. Bagian paru terbagi atas dua yaitu pulmo dekster dengan 3 lobus dan pulmo sinister dengan 2 lobus. Paru-paru kiri lebih kecil dibandingkan paru-paru kanan Setiap lobus dari paru seperti balon yang diisi dengan spons, udara masuk dan keluar melalui satu jalan. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang mengelilingi kedua paru-paru dan memisahkan paru-paru dari dinding dada disebut pleura.

b. Laring (pangkal tenggorok)

Laring adalah organ tubuh tempat pita suara berada. Dan luar laring dapat dilihat di dekat jakun. Pita suara inilah yang mula-mula menghasilkan suara. Jika terkena sentuhan udara yang diembuskan oleh paru-paru, pita suara akan bergetar membuka, menutup, merentang, atau menggerut untuk membentuk suara dan menghasilkan nada setelah dikoordinasikan dengan alat-alat artikulasi di ronggamulut dan hidung.

c. Faring (batang tenggorok)

Organ ini menghubungkan laring dengan rongga mulut dan rongga hidung. Organ ini sangat rentan dengan gangguan udara jika organ tubuh ini terganggu, akan menimbulkan radang dan didalamnya akan terproduksi banyak lendir yang menimbulkan rasa gatal. Oleh karena itu, kebersihan organ tubuh ini dari lendir akan menghasilkan suara yang merdu.

d. Diafragma (sekat rongga dada)

Diafragma merupakan otot besar yang melintang di antara rongga dada dan rongga perut. Fungsinya mengatur kerja paru-paru otomatis. Gerakan diafragma memberi kesempatan rongga untuk mengembang dan mengempis. Dalam kaitannya dengan teknik bernyanyi, diafragma sangat bermanfaat untuk memperbesar kapasitas paru-paru.

2. Organ Penggetar

Organ tubuh yang tergolong sebagai alat penggetar dalam menghasilkan suara yaitu pita suara. Pita suara berbentuk jaringan tenunan otot yang tipis dan elastis berwarna kekuningan. Jika disentuh udara yang diembuskan paru-paru, pita suara akan bergetar dan menghasilkan suara. Baik pada laki-laki atau perempuan, pada fase tertentu, pita suara akan mengalami perubahan sehingga suara pun akan mengalami perubahan yang mengikuti usia.

Posisi pita suara yang berbeda-beda akan menghasilkan suara yang berbeda-beda. Perhatikan penjelasannya berikut ini.

a. Terbuka lebar

Apabila pita suara terbuka lebar, udara akan keluar dari paru-paru tanpa hambatan. Dalam posisi seperti itu akan dihasilkan suara h.

b. Tertutup rapat

Jika suara tertutup rapat, laring juga ikut tertutup. Maka, udara dari paru-paru akan terhambat dan akan menghasilkan suara hamzah (hambat glotal).

c. Bagian atas terbuka sedikit

Jika pita suara bagian atas terbuka sedikit, akan menyebabkan udara dari paru-paru akan menggetarkan pita suara. Dalam posisi seperti ini, akan dihasilkan suara yang jika diolah oleh alat ucap (artikulasi) akan menghasilkan aneka macam suara.

d. Bagian bawah terbuka sedikit

Pada posisi pita suara tersebut, akan dihasilkan suara-suara lemah karena udara yang berembus dari paru-paru akan keluar begitu saja tanpa kekuatan. Suara demikian cocok untuk berbisik dan bernyanyi dengan teknik bersenandung.

3. Alat Ucap

Alat ucap manusia adalah mulut, yang terdiri dari dua bagian yaitu artikulator dan titik artikulasi. Artikulator adalah alat ucap yang dapat digerakkan atau digeserkan untuk menimbulkan berbagai macam bunyi. Alat artikulator adalah lidah. Titik artikulasi bagian alat ucap yang menjadi tumpuan atau titik sentuh artikulator. Organ yang termasuk titik artikulasi adalah bibir, gigi, langit-langit keras, langit-langit lunak, dan tekak.

Penempatan artikulator pada titik-titik artikulasi secara tepat akan menghasilkan kejelasan lafal dalam bernyanyi karena dalam bernyanyi yang diucapkan bukan hanya nadanya tetapi liriknya. Lirik adalah teks lagu yang akan dikomunikasikan kepada pendengar lewat nyanyian. Lafal yang benar dan tepat akan sanggup memberikan pengertian untuk diresapi pendengar.

4. Resonator

Resonator merupakan organ tubuh yang berfungsi memantulkan getaran suara yang ditimbulkan oleh pita suara. Pantulan di dalam rongga organ resonator akan semakin menguatkan suara. Bandingkan dengan rongga pada badan gitar. Tanpa rongga tersebut, getaran suara dari senar tidak akan kuat dan yang termasuk organ resonator adalah rongga mulut, rongga dada, dan rongga hidung.

Untuk mendapatkan suara yang merdu dalam bernyanyi, dibutuhkan organ-organ tubuh yang prima. Untuk itu, organ tubuh yang berkaitan langsung dengan pembentukan suara tersebut harus dilatih dengan baik.

Latihan-latihan yang bisa kalian lakukan dalam mendapatkan suara yang bagus, antara lain sebagai berikut.

a. Latihan intonasi

Latihan intonasi meliputi latihan aksentuasi yaitu memberikan tekanan pada bagian tertentu dari sebuah lagu. Dan latihan dinamik yaitu menambah atau mengurangi kuat lemahnya suara.

b. Latihan artikulasi

Latihan artikulasi adalah latihan ketepatan pelafalan bunyi dengan alat ucap yang meliputi latihan vokalisasi dan latihan pembentukan bunyi-bunyi konsonan.

c. Latihan pernapasan

Latihan pernapasan adalah latihan untuk menghasilkan peningkatan kapasitas paru-paru agar dalam bernyanyi tidak kehabisan napas. Latihan ini meliputi sebagai berikut.

1) Latihan pernapasan dada

Melakukan latihan pernapasan dengan membusungkan dada ketika menarik napas. Latihan ini sekaligus dapat memperkuat otot-otot di sekitar dada agar menjadi lentur. Meskipun demikian, pernapasan dada menghasilkan pernapasan yang kurang stabil sehingga kurang baik bagi teknik pernapasan untuk bernyanyi.

2) Latihan pernapasan bahu

Melakukan pernapasan dengan menarik napas mengangkat bahu untuk mengisi paru-paru. Cara seperti ini tidak baik karena napas yang dihasilkan dangkal atau udara yang terhidup minim sehingga kalimat yang diucapkan sering kali terputus-putus.

3) Latihan pernapasan diafragma

Pernapasan diafragma lazim disebut pernapasan rongga perut. Latihannya dengan malakukan pernapasan menggembangkan rongga perut atau diafragma. Cara ini merupakan pernapasan yang optimal untuk bernyanyi karena akan menghasilkan napas yang panjang, ringan, santai sehingga produksi suara lebih bermutu.

4) Latihan frasering

Frasering adalah aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar dalam bernyanyi. Dengan frasering yang benar pesan dan maksud lagu akan mudah dimengerti oleh pendengar. Frasering dalam bernyanyi disesuaikan dengan kaidah komunikasi yang berlaku.

C. Bernyanyi Satu Suara Unisono

Saat bernyanyi dalam paduan suara, para penyanyi yang bernyanyi dalam satu suara disebut dengan menyanyi secara unisono. Satu suara adalah unisono adalah jenis suara yang menyanyikan suara yang menyanyikan nada sama. Dalam melakukan  unisono ada beberapa keterampilan yang wajib kalian miliki diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Ketepatan Membidik Nada (Pitch)

Tahukah kalian bahwa memiliki suara yang bagus atau merdu belum tentu mampu bernyanyi dengan baik dan indah. Masih perlu dibutuhkan kemampuan membidik nada untuk dapat menyanyikan lagu dengan tepat sehingga nyanyian terdengar indah. Kemampuan membidik nada dengan tepat ini disebut pitch control. Ketidakmampuan membidik nada akan menyebabkan suara kalian menjadi fals atau sumbang. Agar kalian memiliki kemampuan membidik nada dengan baik dan tepat, tentunya kalian harus melakukan pitching dengan tepat. 

Untuk membidik nada yang berinterval dekat masih mudah. Akan tetapi, akan semakin sulit bila kita membidik nada dengan interval (jarak) yang jauh dan bervariasi. Berlatilah dengan nada-nada berinterval seconde sampai mahir, kemudian untuk nada-nada berinterval terts, kemudian kwart, baru kwint, dan seterusnya.

2. Interpretasi Lagu

Kemampuan interpretasi lagu akan menghasilkan dua hal pokok dalam membawakan lagu, yaitu sebagai berikut.

  • Kemampuan menafsirkan maksud dan tujuan lagu diciptkan oleh komponisnya. Sebagai contoh, lagu "Gugur Bunga" oleh komponisnya dimaksudkan dan ditujukan untuk mengungkapkan rasa sedih dan hormat atas gugurnya seorang pahlawan. Oleh karenanya, saat kalian menyanyikan lagu itu juga harus mampu memunculkan rasa sedih dan hormat tersebut. 
  • Pengetahuan yang luas tentang musik sehingga dalam membawakan lahu sesuai dengan tuntutan jenis musik yang diinginkan oleh komponisnya. Sebagai contoh, lagu "Bengawan Solo" tidak akan tepat dinyanyikan dengan gaya rock karena segala unsur lagu tersebut, baik melodi, maupun harmoninya lebih cocok untuk jenis lagu langgam keroncong.
3. Penjiwaan Lagu

Selain untuk menyampaikan pesan, lagu juga diciptakan untuk mengungkapkan rasa. Perasaan positif, seperti rasa syukur, gembira, semangat, rasa hormat, dan rasa sayang dapat diungkapkan dengan lagu. Sebaliknya, rasa sedih, marah, benci, atau kecewa juga dapat diungkapkan melalui lagu. Oleh karena itu, kalian harus dapat menangkap nilai rasa dalam lagu saat menyanyikannya. Kemampuan mengungkapkan nilai rasa saat bernyanyi itulah yang disebut penjiwaan terhadap lagu tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam melakukan penjiwaan lagu, diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Ritme (irama)

Irama atau yang bisa kita sebut dengan ritme ialah merupakan pengulangan secara terus menerus dan teratur dari suatu unsur atau beberapa unsur. Kata ritme, berasal dari bahasa Yunani yang artinya "rhythmos" yang dikenal juga dengan sebutan irama. Irama terbentuk dari suara dan diam yang dimana digabungkan dan kemudian membentuk pola suara yang berulang-ulang.

Unsur-unsur lain yang terkait dengan ritme :

  • nada
  • melodi
  • harmoni
  • tempo
  • dinamik
  • tangga nada
  • tanda kunci.

Sedangkan ritme dapat diperoleh dengan beberapa cara, diantaranya ialah sebagai berikut ini 

  •  repetisi, melalui pengulangan bentuk
  • variasi, melalui penyelangan dan pergantian
  • progresi atau gradasi, suatu urutan atau tingkatan yang dimana seperti besar makin lama makin mengecil
  • kontinu, melalui gerak garis kesinambungan 
b. Birama

Birama adalah suatu tanda untuk menunjukkan jumlah ketukan dalam satu ruas birama. Satu ruas birama ditunjukkan oleh batas-batas garis vertikal yang disebut garis birama. Hal ini terlihat dalam musik diatonis. Namun, dalam musik pentatonis penggunaan garis birama jarang ditemui. Dalam tangga nada diatonis, petak-petak yang dibatasi garis birama disebut ruas birama. Tiap birama dalam musik mempunyai tekanan suara yang teratur yang disebut arsis dan aksen. Arsis adalah birama yang ringan. Aksen adalah birama yang kuat. Fungsi Birama Berikut ini terdapat beberapa fungsi birama, terdiri atas:

1) Fungsi Musikal

Secara musikal birama memiliki fungsi untuk membangun irama. Dari satuan unit-unit birama yang berulang terbentuklah irama. Dalam membangun irama, satuan unit-unit birama yang berulang irama biasanya terdiri dari warna bunyi berat (rendah) dan ringan (tinggi). Warna Bunyi Berat umumnya jatuh pada ketukan pertama dan warna bunyi ringan umumnya jatuh pada ketukan selanjutnya

2) Fungsi Simbol

Secara simbol musikal, birama memberikan pengertian mengenai hitungan dasar irama dalam musik. Birama biasa dismbolkan dengan angka pecahan seperti; Birama 2/2, Birama 2/4, Birama ¾, Birama 4/4, Birama, 6/8 dan sebagainya.

3) Unsur-Unsur Birama

Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur birama, terdiri atas:

  • Di dalam birama terdapat unsur waktu yang ditandai dengan nilai hitungan
  • Di dalam birama terdapat unsur jalinan bunyi bertekanan berat dan ringan
  • Di dalam birama terdapat juga ruang kosong tanpa bunyi namun tetap dihitung dalam waktu hitungan (ketuk/pulsa) 

4) Contoh lagu birama 

Berikut ini terdapat beberapa contoh lagu birama, terdiri atas:

a. Birama 2/4

Contoh lagu Nusantara yang berbirama 2/4 adalah sebagai berikut.

1) Hari Merdeka (lagu nasional)

2) Cik Cik Periok dari Kalimantan Barat

3) Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan

4) Manuk Dadali dari Jawa Barat

b. Birama 3/4

Contoh lagu Nusantara yang berbirama 3/4 adalah sebagai berikut.

1) Burung Tantina dari Maluku

2) Burung Kakatua dari Maluku

3) Tumpi Wahyu dari Kalimantan Tengah

4) Lisoi dari Tapanuli

c. Birama 4/4

Contoh lagu yang berbirama 4/4 adalah sebagai berikut.

1) Bungong Jeumpa dari Aceh

2) Butet dari Tapanuli

3) Injit Injit Semut dari Sumatera Timur

4) Ayam Den Lapeh dari Sumatera Barat

5) Jali-Jali dari Jakarta

d. Birama 6/8

contohnya:

Naik-Naik ke Puncak Gunung dari Maluku.

D. Membaca dan Menulis Not

Agar dapat bernyanyi dengan baik, seyogianya kalian harus mampu membidik nada. Dengan mampu membidik nada, kalian akan dapat bernyanyi dengan suara yang tepat dan tidak sumbang. Kemampuan inilah yang lazim disebut pitch control. Agar kalian memiliki kemampuan ini, kalian harus mengusai tinggi rendahnya nada. Setelah itu, akan lebih baik jika kalian mampu membaca not karena nada-nada lagu itu ditulis dalam bentuk not.

1. Nada

Nada adalah tinggi rendahnya suara ketika kita mengucapkan kata dalam suatu kalimat. Jika seseorang dalam keadaan bersedih maka orang tersebut akan berbicara dengan nada yang rendah. Lain halnya jika seseorang dalam keadaan senang/ gembira atau marah, maka orang tersebut akan berbicara/ bersuara dengan nada. Sebuah pernyataan atau perintah akan selalu disertai nada yang khas sesuai dengan keaadaan.

Dalam pengertian yang sederhana, tangga nada dalam musik bisa diartikan sebagai satu set atau satu kumpulan not musik yang diatur sedemikian rupa dengan aturan yang baku sehingga memberikan nuansa atau karakter tertentu. Aturan baku tersebut berupa interval atau jarak antara satu not dengan not yang lain, aturan tentang nada awal dan nada final, dan lain-lain.

Ada berbagai macam tangga nada di dalam musik, masing-masing memiliki aturan baku sebagai ciri yang membedakan antara tangga nada yang satu dengan tangga nada yang lain. Nada merupakan bagian terkecil dari lagu. Nada (tone) dalam pengertian musik adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Nada dalam tangga nada diatonis mempunyai jarak interval tertentu juga. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

Nada memiliki sifat-sifat khusus. Adapun sifat-sifat dari nada yang perlu kalian ketahui adalah sebagai berikut.

a. Intensitas nada

Intensitas nada berarti keras atau lembutnya bunyi suatu nada. Hal ini tergantung pada lebarnya getaran dan sifatnya relatif. Nada yang terdengar keras di dalam ruangan belum tentu keras bila terdengar di stadion. Demikian pula, keras atau lemahnya suatu nada juga tergantung pada selera pribadi. Nada yang sudah terdengar keras bagi seseorang mungkin masih belum cukup keras bagi orang lain.

b. Tinggi nada (pitch)

Tinggi nada berkaitan dengan frekuensi atau banyaknya getaran tiap detik. Makin besar frekuensi, makin tinggi nadanya. Setiap nada mempunyai frekuensi tertentu. Bila banyaknya getaran atau besarnya frekuensi berkurang sedikit saja, nada akan terdengar sumbang. Jadi, pitch yang dibunyikan harus tepat.

c. Panjang nada (durasi)

Panjang nada merupakan lama suatu nada dibunyikan. Panjang nada dihitung dengan satuan ketuk yang sifatnya relatif, bisa panjang bisa pendek. Dalam musik, waktu diam atau nada tidak berbunyi pun memiliki durasi agar dapat diatur kapan dan sebesar apa nada harus berbunyi.

d. Warna nada (timbre)

Warna nada adalah jenis suara yang dihasilkan. Warna nada tergantung pada sumber bunyi, resonator (ruang gema), dan cara memainkan sumber bunyinya. Walaupun rebab dan angklung membunyikan nada yang tinggi dan panjang serta kuatnya sama, warna nadanya tetap berbeda

Notasi musik adalah sistem penulisan lagu, sedangkan satuan pada nada kalian dapat mengenal, membaca, dan menyanyikan seb uah komposisi musik. Bahkan kalian dapat menuliskan kembali komposisi musik yang telah kalian kenal. Dengan demikian, notasi merupakan perwujudan dari nada. Jika dana dapat didengar, maka not dapat dilihat. Jadi, tidak mengherankan bila not disebut pula sebagai lambang nada.

Dalam notasi angka, not ditentukan dengan angka 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 4 (fa), 5 (sol), 6 (la) dan 7 (si). Angka-angka tersebut menunjukkan tinggi-rendahnya nada. Ada juga angka 0 sebagai tanda diam. Nada 1 tanpa titik merupakan nada dasar. Tanda satu titik di atas not, menunjukkan bahwa not tersebut naik satu oktaf dari nada asli, sedangkan tanda satu titik di bawah not, menunjukkan bahwa not tersebut turun satu oktaf dari nada asli. Nada 1 tanpa garis miring merupakan nada natural. Tanda garis miring silang ke kanan pada not, menunjukkan bahwa not tersebut naik setengah nada dari nada asli (berfungsi seperti tanda kres pada notasi balok).

Not dengan garis miring ke kanan ditentukan dengan angka 1 dengan simbol / (di atau do naik setengah), 2 dengan simbol / (ri atau re naik setengah), 4 dengan simbol / (fi atau fa naik setengah), 5 dengan simbol / (sel atau sol naik setengah) dan 6 dengan simbol / (li atau la naik setengah), sedangkan tanda garis miring silang ke kiri pada not, menunjukkan bahwa not tersebut turun setengah nada dari nada asli (berfungsi seperti tanda mol pada notasi balok). Not dengan garis miring ke kiri ditentukan dengan angka 2 dengan simbol \ (ra atau re turun setengah), 3 dengan simbol \ (ma atau mi turun setengah), 5 dengan simbol \ (sal atau sol turun setengah), 6 dengan simbol \ (le atau la turun setengah) dan 7 dengan simbol \ (sa atau si turun setengah). Membaca Notasi Angka. Notasi angka 4 suara SATB

  • Do = G menunjukkan nada dasar lagu tersebut
  • 4/4 menunjukkan Tanda birama yang menunjukkan ritme lagu. Angka di bagian atas tanda birama menunjukkan jumlah ketukan per birama, sedangkan angka di bawah menunjukkan nilai not per ketukan. Tanda birama 4/4 di sini menunjukkan bahwa terdapat empat ketukan dalam birama, satu ketukan kuat diikuti tiga ketukan lemah, dan masing-masing ketukan bernilai not seperempat
  • Tempo = 66 menunjukkan tempo lagu, artinya dalam satu menit ada 66 ketuk.
  • SATB menunjukkan tipe suara yang menyanyikan baris tersebut
  • P berarti 'piano' yang berarti lembut, artinya lagi ini dengan dinamika yang lembut.
  • Tanda Crescendo yang dilanjutkan dengan tanda decrescendo, menunjukkan ada perubahan dinamika, yakni mengeras, kemudian melembut lagi.
  • Garis birama yang merupakan pemisah antar birama.
2. Tangga Nada

Tangga nada adalah rangkaian notasi musik yang diurutkan berdasarkan frekuensi dasar atau pitch. Bila diibaratkan pada kehidupan nyata, maka tangga nada memiliki fungsi serupa dengan tangga pada kehidupan sehari-hari, dimana susunan nada pada sebuah tangga nada dapat naik atau turun tergantung pada pitch yang digunakan untuk mengurutkannya. Secara umum, tangga nada bisa didefinisikan sebagai susunan berjenjang dari nada-nada pokok suatu sistem nada, mulai dari satu nada dasar sampai dengan nada oktafnya, misalnya: do, re, mi, fa, so, la, si, do. Berdasarkan prinsip kesetaraan oktaf, sebuah tangga nada umumnya dianggap menjangkau hanya satu oktaf, dengan oktaf yang lebih tinggi atau rendah pada tangga nada tersebut hanya mengulangi pola dasarnya.

Tangga nada mewakili pembagian ruang oktaf menjadi sejumlah langkah tertentu, dimana jarak antar langkah tersebut disebut dengan interval nada, yang berfungsi menentukan jeda antara satu nada dengan nada lainnya. Suatu tangga nada umumnya disusun mulai dari nada rendah hingga nada tinggi, dengan pola nada yang berulang pada setiap oktaf (skala Bohlen-Pierce menjadi pengecualian). Tangga nada yang mengulang susunan nada pada setiap oktafnya direpresentasikan sebagai susunan melingkar dari kelas nada, yang diurutkan dengan menaikkan (atau menurunkan) kelas nada.

Misalnya, susunan nada pada tangga nada C mayor meningkat adalah C-D-E-F-G-A-B-[C], dimana tanda kurung siku pada nada C terakhir menunjukkan bahwa nada tersebut berada pada oktaf yang lebih tinggi dari nada C yang pertama. Sebaliknya, pada tangga nada C minor menurun susunan nadanya adalah C-B-A-G-F-E-D-[C], dimana tanda kurung siku menunjukkan bahwa nada C terakhir berada di oktaf yang lebih rendah dari yang pertama. Jarak antara dua nada yang berurutan pada sebuah tangga nada disebut dengan langkah. Notasi dari sebuah tangga nada diberi nomor berdasarkan langkah-langkah yang dimulai dari tingkat pertama tangga nada tersebut.

Misalnya, dalam tangga nada C mayor diatas, nada pertama adalah C, kedua D, ketiga E, dan seterusnya. Dua nada yang berurutan juga dapat diberi nomor berdasarkan hubungan antara satu nada dengan lainnya: C dan D menciptakan interval sepertiga (dalam hal ini sepertiga mayor); D dan F juga menciptakan interval sepertiga (dalam hal ini sepertiga minor).

Tangga nada dapat dideskripsikan berdasarkan jumlah nada per oktaf pada susunannya:

  • Skala Kromatis, disebut juga dodekatonis (terdiri dari 12 not per oktaf)
  • Skala Oktatonis (terdiri dari 8 not per oktaf)
  • Skala Diatonis (terdiri dari 7 not per oktaf)
  • Skala Heksatonis (terdiri dari 6 not per oktaf)
  • Skala Pentatonis (terdiri dari 5 not per oktaf)
  • Skala Mayor
  • Skala Minor
  • Skala Modal
  • Skala Penuh

Tangga nada dapat diartikan sebagai urutan nada yang disusun secara berurutan. Selain itu, tangga nada juga dapat diartikan sebagai susunan nada yang berjenjang dari sebuah sistem nada. Ini artinya, nada disusun mulai dari nada dasar sampai nada oktaf, yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi dari nada dasar tangga nada itu. Tangga nada dibedakan menjadi dua, yaitu tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis.

a. Tangga Nada Diatonis

Tangga nada diatonis adalah tangga nada dengan jarak dua tangga nada. Jarak tangga nada diatonis adalah satu dan setengah. Pada sistem tangga nada diatonis, satu rangkaian nada memiliki tujuh nada pokok, dengan nada kedelapan adalah pengulangan nada pertama. Urutan nada do, re, mi, fa, sol, la, si, do, adalah contoh tangga nada diatonis.

Tangga nada diatonis dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu tangga nada minor dan tangga nada mayor. Interval atau jarak dari tangga nada minor berbeda dengan tangga nada mayor dengan ciri-ciri musik yang juga berbeda Pada tangga nada mayor, intervalnya adalah 1, 1, 1/2, 1, 1, 1, 1/2. Sedangkan pada tangga nada minor, memiliki tangga nada interval 1, 1/2, 1, 1, 1/2, 1, 1.

Ciri tangga nada mayor adalah musiknya yang bersifat gembira, bersemangat, dan biasanya diawali dengan nada do. Berbeda dengan tangga nada mayor, tangga nada minor memiliki ciri bersifat deih, kurang bersemangat, dan tangga nada biasanya diawali dan diakhiri dengan nada la. Alat musik yang menggunakan tangga nada diatonis adalah piano.

b. Tangga Nada Pentatonis

Pada tangga nada pentatonis, hanya menggunakan lima nada pokok saja. Tangga nada yang ada pada tangga nada pentatonis dibedakan oleh jarak antarnada, juga pilihan nada yang didengar. Nah, tangga nada pentatonis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan nadanya, yaitu tangga nada pelog dan tangga nada slendro. Dua jenis tangga nada pentatonis ini memiliki masing-masing lima tangga nada yang berbeda. Tangga nada pentatonis pelog memakai nada do, mi, fa, sol, si. Sedangkan tangga nada pentatonis slendro menggunakan tangga nada do, re, mi, so, la. 

E. Teknik Bernyanyi Unisono

Teknik bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok pada prinsipnya sama dengan bernyanyi sendiri. Penguasaan teknik vokal yang benar tetap menjadi modal utama. Namun, dengan teknik vokal yang baik saja belum cukup. Untuk bernyanyi secara berkelompok masih dibutuhkan kesamaan dalam berbagai unsur, baik teknik vokal maupun berbagai unsur harmoni. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan harmoni dalam bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok adalah sebagai berikut.

1. Kesamaan Nada (Pitch)

Untuk menghasilkan kesamaan nada diperlukan penguasaan pitch control (kemampuan membidik nada dengan tepat) yang baik dari semua penyanyi. Jika salah satu penyanyi salah membidik nada, nyanyian akan sumbang atau fals. Oleh karena itu, dalam bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok tidak perlu banyak improvisasi melodi dan ornamentasi.

Mungkin kalian sudah pernah mendengar istilah pitch control dalam dunia musik atau dunia vokal seperti menyanyi, berbicara dan berpidato. Istilah ini diadaptasi atau dianalogikan dengan suatu alat yang namanya Pitch Controller pada alat audio canggih seperti CD Player, Cassette Deck, Tapa Deck dan Turn Table.

Pitch Controller itu mengatur kecepatan putar dari CD, Tape dan Cassette sehinga akan didapat frekwensi yang variable rendah atau tinggi. Pada prinsip ini diadaptasikan ke tinggi rendahnya suara pitch pada vokal manusia!

Dalam ajang Kontes seperti AFI, Indonesian Idol dan sejenisnya para Komentator sering sekali mengatakan bahwa peserta kurang bisa melakukan "pitch control" suaranya. yang dimaksud sang peserta salah memulai setting tingginya suara dalam awal menyanyikan lagu sehingga terjebak pada waktu nada-nada rendah atau biasanya tekor pada waktu nada-nada tinggi. Akibatnya fatal menyanyi dengan menjerit-jerit dan urat leher keluar!

Penyanyi yang profesional akan menguasai semua nada dalam spektrum oktaf suaranya sehingga pada nada apapun terlihat santai tidak ngotot dan full control suara akan keluar bulat dan penuh dan tidak fals! Suara fals itu terjadi kalau kita kurang nafas atau nada tak sampai atau power suara habis! ini terjadi karena mismanagemnt dari "pitch control" tadi.

2. Kesamaan Tempo

Tempo merupakan cepat lambatnya lagu dinyanyikan Dalam bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok setiap penyanyi harus bernyanyi dalam ketepatan yang sama. Bahkan, jika lagu yang dibawakan memerlukan perubahan tempo, tiap penyanyi harus menyikapi secara bersama.

Tempo adalah ukuran kecepatan dalam birama lagu. Ukuran kecepatan bisa diukur dengan alat bernama metronom dan alat bernama kibor. Di dalam keyboard terdapat digital metronome yang bisa berfungsi sebagai pengukur kecepatan dalam birama, misalnya 3/4 atau 4/4. Tempo standard lagu pop antara 64-80 atau 100-120, untuk lagu mars bisa antara 140-160, dan dixieland atau country ballad mungkin bisa sampai 220 . Lagu Oh, Susanna di dalam kurikulum keyboard Purwacaraka untuk tingkat pertama mencantumkan angka 210 untuk tempo Dixieland.

Sedangkan lagu Yesterday Once More di dalam buku Twilight Memory 7, karya Carpenters mencantumkan angka 64 untuk Tempo style 8 Beat.Di dalam keyboard PSR 3000 Yamaha, tempo ditandai dengan 4 lampu. Bila birama 4/4 dimainkan, tiap lampu akan menandakan hitungannya ke 1,2,3,4 sesuai kecepatan tempo ( misalnya 60-120 ). Pada metronom manual, stik besi kecil diset pada angka 140 misalnya atau untuk mood Allegretto atau Andantino, dan berbunyi "cling - tak - tak - tak." Atau metronom digital akan menyala lampunya misalnya: " merah - hijau - hijau - hijau . " Atau nyala " Besar - kecil - kecil - kecil . " Menggunakan batere kotak 9-12 v.

3. Kesamaan Dinamik

Dinamik merupakan keras lemahnya suara dalam bernyanyi untuk menghasilkan ekspresi yang sesuai dengan isi lagu. Pada saat bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok, dinamik secara keseluruhan penyanyi harus sama dan kompak. 

Jika bagian lagu tertentu membutuhkan tekanan suara yang lantang dan menggelegar, semua penyanyi harus mengeluarkan suara yang sama. Begitu pula jika bagian lagu memerlukan tekanan suara yang lemah lembut, semua penyanyi harus melakukan hal yang sama tanpa terkecuali.

Dinamika adalah volume nada secara nyaring atau lembut. Dinamika biasanya digunakan oleh komposer untuk menunjukan bagaimana perasaan yang terkandung di dalam sebuah komposisi, apakah itu riang, sedih, datar, atau agresif. Tanda dinamika pada umumnya ditulis menggunakan kata-kata dalam bahasa italia. Ada dua kata dasar dalam dinamika, piano (lembut) dan forte (nyaring) selebihnya merupakan variasi dari dua kata ini.

Ada beberapa tanda dinamika yang umum digunakan dalam karya musik, yaitu:

  • Pianissimo (pp) : Suara yang dihasilkan sangat lembut.
  • Piano (p) : Suara yang dihasilkan lembut.
  • Mezzo-piano (mp) : Suara yang dihasilkan agak lembut.
  • Mezzo-forte (mf) : Suara yang dihasilkan agak nyaring.
  • Forte (f): Suara yang dihasilkan nyaring.
  • Fortissimo (ff) : Suara yang dihasilkan sangat nyaring.

Tanda dinamika dapat diletakkan di awal, tengah, akhir, atau di mana saja dalam sebuah komposisi musik dan dimainkan hanya pada nada yang diberi tanda saja. Jika tanda dinamika tidak terlihat maka nada dimainkan dengan volume sedang. Tempo merupakan lawan dari dinamika.

4. Kesamaan Penjiwaan dan Ekspresi

Dalam penampilan bernyanyi satu suara (unisono) secara berkelompok, penjiwaan dan ekspresi para penyanyinya yang akan dilihat langsung pertama kali oleh penonton. Ekspresi tersebut tidak hanya diperlihatkan dalam penampilan wajah, tetapi juga harus muncul dalam suara dan nada para penyanyinya.

a. Ekspresi

Ekspresi Seorang penyanyi harus dapat membawakan lagu dengan baik dari suatu ciptaan sesuai dengan jiwa lagu tersebut, misalnya sedih, gembira, semangat dan sebagainya. Sebuah lagu yang gembira harus pula disertai dengan mimik atau gerakan yang gembira pula.

Bernyanyi dengan 'perasaan' berarti bernyanyi dengan 'hati'. Sebelum menyanyikan lagu, sebaiknya kita sudah menghayati apa yang akan dinyanyikan. Karena selama bernyanyi harus menghayati isi nyanyian dengan perasaan atau hati.

Banyak penyanyi memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, bukan pada nyanyian yang sedang dibawakan. Tidak ada nyanyian ekspresif yang dilakukan sambil mengingat-ingat lagu yang dibawakan, apalagi bila sambil membaca syairnya. Oleh karena itu sebelum tampil, hafalkan lirik lagu yang akan dibawakan. Setelah hafal lirik lagunya, pahami betul apa makna pesan yang ada pada lagu tersebut, kemudian pahami makna dan pesannya, pastikan apakah jiwa dasar lagu itu sedih, marah, semangat, gembira dan sebagainya.

Setelah cukup berhasil menjiwai syair dari lagu, nyanyikanlah melodi lagu tersebut tanpa syair dengan tetap mengintegrasikan pada jiwa dasar penafsiran tentang syair. Setelah syair lagu dikuasai, masih ada satu lagi yang harus dilalui yaitu faktor musik pengiring yang berguna fungsinya untuk membawa pada perasaan yang lebih mendalam.

Ketika bernyanyi dengan iringan musik, satukan perasaan lagu dengan suasana musik pengiringnya. Kiat sederhana dalam menjiwai irama musik pengiring, yaitu berinteraksilah, terutama dengan salah satu instrument apabila diiringi lebih dari satu instrument, karena instrument memiliki perasaan yang lebih menonjol terhadap irama.

b. Penjiwaan

Teknik penjiwaan adalah cara untuk menguasai teknik-teknik bernyanyi. Teknik penjiwaan dapat dilakukan dengan cara :

1) Merubah dinamika atau volume suara

Teknik penjiwaan yang biasa dilakukan adalah dinamika atau perubahan keras lembutnya suara sesuai dengan tanda-tanda atau perasaan. Tanda dinamik terletak dalam struktur kalimat musik yang pada umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian sebelum puncak yang disertai dengan crescendo dan bagian sesudah puncak yang disertai dengan decrescendo.

2) Menghidupkan tempo

Memilih tempo yang tepat untuk sebuah nyanyian, penting sekali dalam penjiwaan. Karena semua istilah seperti allegro (cepat), moderato (sedang), andante (lambat) dan serusnya sangat relatif, maka penyanyi harus mencoba tempo mana yang sesuai dengan nyanyian.

3) Pengungkapan Nyanyian

Dalam mengungkapkan nyanyian terlebih dahulu mempelajari penjiwaan.

  • Mula-mula dengan memilih nyanyian yang memancing gerak-gerik
  • Kemudian menyanyikan lagu-lagu yang lebih serius
  • Tidak bernyanyi terlalu keras, dan jangan bernyanyi hanya dengan suara tetapi dengan wajah.
  • Suara selalu dijiwai oleh penghayatan dan maksud nyanyian, dan oleh hati yang tidak pernah meninggalkan suara.
  • Perlu juga membaca teks tidak hanya dengan mata tetapi dengan suara seolah-olah seperti baca puisi.


Demikianlah yang dapat admin bagikan kali ini. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru dan juga anak didik dalam mencari referensi terkait dengan apa yang telah dibagikan di atas. Dan selanjutnya, apa yang sudah dibagikan di atas dapat memberikan dampak positif yang baik kepada perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami materi yang telah dijelaskan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah berkaitan dengan penjelasan di atas. Dan bagi Bapak/Ibu Guru harapannya, kiranya Bapak dan Ibu Guru selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang di dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sukses selalu buat kita semua di mana pun berada, kiranya rahmat Tuhan selalu menyertai. Sekian dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Konsep, Teknik, Membaca, dan Menulis Not Bernyanyi Satu Suara (Unisono) secara Berkelompok

Beranda / Google.com / Google.co.id / YouTube.com / Disclaimer