"KUMPULAN REFERENSI PEMBELAJARAN TENTANG PENGERTIAN"

Kamis, 23 Januari 2020

Teks Cerpen | Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur-Unsur, Kaidah Bahasa, dan Contoh Teks Cerpen



Daftar Isi [Tampil]
searchpengertian.com | Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan pengertian, ciri-ciri, unsur-unsur, kaidah kebahasaan, dan contoh teks cerpen dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang pengertian, ciri-ciri, unsur-unsur, kaidah kebahasaan, dan contoh teks cerpen dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dan harapannya, apa yang admin bagikan kali ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami pengertian, ciri-ciri, unsur-unsur, kaidah kebahasaan, dan contoh teks cerpen dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Teks Cerpen | Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur-Unsur, Kaidah Bahasa, dan Contoh Teks Cerpen
www.searchpengertian.com

Pengertian Teks Cerpen

Cerpen merupakan karya sastra berbentuk fiksi. Sesuai dengan namanya, cerpen kependekan dari cerita pendek. Akan tetapi, ukuran panjang pendek cerita memang tidak ada aturan pasti. Tidak ada satu kesepakatan di antara pengarang dan para ahli tentang ukuran panjang pendek cerita. Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.

Cerpen adalah jenis karya sastra yang berbentuk prosa naratif fiktif atau fiksi di mana isinya menceritakan atau menggambarkan kisah suatu tokoh beserta segala konflik dan penyelesaiannya, yang ditulis secara ringkas dan padat.

Pengertian Cerpen Menurut Para Ahli

Menurut A. Bakar Hamid, cerpen atau cerita pendek seharusnya dilihat dari kuantitas kata yang digunakan, yaitu antara 500 sampai 20.000 kata, terdapat plot, terdapat satu karakter, dan adanya kesan.
Menurut Saini, cerpen adalah cerita pendek fiksi atau tidak benar-benar terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja dan di mana saja cerita ini relatif singkat.
Menurut B. Jassin, cerpen adalah sebuah cerita singkat yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian.
Menurut Nugroho Notosusanto, cerpen adalah cerita yang panjangnya berkisar 5.000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi, di mana isinya terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
Menurut Sumardjo dan Saini, cerpen adalah cerita fiktif atau tidak benar-benar terjadi akan tetapi bisa saja terjadi kapanpun dan di mana pun yang mana ceritanya relatif pendek.

Struktur Teks Cerpen

Setiap teks yang ada dalam pembelajaran bahasa Indonesia, semuanya pasti memiliki struktur tanpa terkecuali teks cerpen. Adapun struktur teks cerpen dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Abstrak
Abstrak adalah ringkasan atau inti dari cerpen dan merupakan gambaran awal suatu cerita. Unsur abstrak sifatnya opsional, dengan kata lain suatu cerpen boleh saja tidak menggunakan abstrak.
2. Orientasi
Orientasi adalah hal-hal yang berhubungan dengan waktu, suasana, dan tempat yang ada di dalam cerita pendek.
3. Komplikasi
Komplikasi adalah urutan berbagai kejadian yang dihubungkan berdasarkan sebab-akibat. Kita dapat melihat watak atau karakter suatu tokoh dalam cerpen pada bagian struktur ini.
4. Evaluasi
Evaluasi adalah struktur konflik yang terjadi dan mengarah pada klimaks, serta mulai menemukan solusi atau penyelesaian atas konflik tersebut.
5. Resolusi
Resolusi adalah penyelesaian atas masalah yang dialami oleh tokoh di dalam cerpen.
6. Koda
Koda adalah nilai moril atau pelajaran yang bisa didapatkan oleh pembaca.

Ciri-Ciri Teks Cerpen


Sebenarnya sangat mudah untuk mengenali ciri-ciri dari sebuah cerpen. Berikut ini adalah ciri-ciri cerpen sebagai berikut.
  1. Cerita pendek dapat meninggalkan kesan dan pesan mendalam sehingga pembaca ikut merasakan isi cerpen tersebut.
  2. Bentuk penokohan di dala cerpen sangat sederhana.
  3. Biasanya cerpen mengunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pembaca.
  4. Isi cerpen umumnya diangkat dari kejadian sehari-hari.
  5. Bentuk tulisannya singkat atau lebih singkar dari novel.
  6. Hanya terdapat satu alur saja, alur tunggal
  7. Isi cerpen bersifat fiktif/fiksi
  8. Jumlah kata kurang dari 10.000 kata.

Aspek Kebahasaan Teks Cerpen

Berikut ini adalah aspek dan ciri kebahasaan teks cerpen
1. Kosakata
Kosakata mempunyai hubungan erat dalam menciptakan alur cerita. Ketepatan dalam pemilihan dan penggunaan kosakata akan memberikan gambaran kualitas cerpen yang dibuat. Selain itu, pemilihan kosakata yang tepat akan menambah keindahan dan keserasian makna yang tercipta. Oleh karena itu, pembaca hendaknya memahami kosakata dan mencoba mencari tahu kosakata baru yang terdapat pada teks cerpen. Pemilihan kosakata dalam cerpen dapat berupa pemilihan menggunakan kata khusus dari pada kata umum.
Contoh:
Bentuk : lingkaran, persegi, segitiga, kubus, limas, bulat, beraturan, tidak beraturan, dan abstrak.
Sayuran : kubis, bayam, kangkung, dan sawi.
Indah : cantik, menawan, mengagumkan, menyenangkan, elok, bagus, dan molek
2. Gaya Bahasa
Gaya bahasa sering disebut dengan istilah majas. Gaya bahasa pada cerpen berperan dalam memperindah dan meningkatkan efek makna dalam bacaan. Gaya bahasa biasanya memperkenalkan atau membandingkan suatu benda dengan benda lainnya. Penggunaan gaya bahasa akan menimbulkan makna konotasi.
a) Personifikasi
Gaya bahasa ini seakan menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia. Contoh: Daun kelapa tersebut seakan melambai dan mengajakku untuk segera bermain di pantai.
b) Metafora
Gaya bahasa ini meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan. Contoh: Pengawai tersebut merupakan tangan kanan dari komisaris perusahaan tersebut.
c) Asosiasi
Gaya bahasa ini membandikan dua objek yang berbeda, namun dianggap sama dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, seperti. Contoh: Kakak beradik itu bagaikan pinang dibelah dua.
d) Hiperbola
Gaya bahasa ini mengungkapkan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal. Contoh: Orang tuanya memeras keringat agar anak tersebut dapat terus bersekolah.
3. Kalimat Deskriptif
Penggunaan kalimat deskriptif berfungsi melukiskan atau menggambarkan keadaaan dan peristiwa dalam cerpen. Penggunaan kalimat deskriptif ini membuat pembaca lebih memahami alur cerita. Selain itu, kalimat deskriptif bertujuan membuat pembaca memahami peristiwa yang terjadi dalam cerpen.
Contoh:
Aku mempunyai seorang ayah yang baik. Dia juga merupakan ayah yang bertanggungjawab kepada keluarga kami. Ayahku mempuyai badan tinggi besar. Ayahku juga mempunyai wajah yang oval dan ganteng. Selain itu ayahku juga jago memasak dibandingkan dengan ibu. Aku bangga memiliki ayah seperti dia.
4. Bahasa Tidak Baku dan Tidak Formal
Cerpen sering disajikan dengan bahasa tidak baku dan tidak formal karena menceritakan kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa tidak baku dan tidak formal ini akan membuat cerpen lebih terasa dekat dengan pembaca. Selain itu, penggunaan bahasa tidak baku dan tidak formal akan membuat cerita terasa lebih nyata.
Contoh:
Kata Baku
Kata Tidak Baku
abjad
abjat
advokat
adpokat
afdal
afdol
akhlak
ahlak
aktif
aktip
ambeien
ambeyen
analisis
analisa
5. Penggunaan Kalimat yang Menunjukkan Keterangan Waktu
Kalimat keterangan waktu adalah kalimat yang didalamnya terdapat kata keterangan waktu sebagai penunjuk waktu terjadinya sebuah peristiwa tertentu. Contoh penggunaan keterangan waktu, antara lain besok, pagi, siang, sore, malam, esok, lusa, kemari, dan penunjuk.

Unsur-Unsur Teks Cerpen

Unsur teks cerpen terbagi menjadi dua yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Adapun unsur-unsur teks cerpen tersebut adalah sebagai berikut.

1. Unsur Ekstrinsik Teks Cerpen
Berikut ini beberapa unsur-unsur ekstrinsik yang terdapat dalam sebuah teks cerpen.
1) Bahasa
Bahasa merupakan sarana yang digunakan dalam karya sastra. Bahasa yang digunakan dalam sebuah karya sastra dipengaruhi oleh bahasa pengarang. Unsur bahasa daerah dimungkinkan masuk ke karya sastra tersebut. Bahasa pengarang berkaitan erat dengan unsur ekstrinsik.
2) Latar Belakang Pengarang
Latar belakang pengarang meliputi pemahaman kita terhadap sejarah hidup pengarang dan juga sejarah hasil karangan-karangan yang ditulis pengarang sebelumnya. Latar belakang pengarang terdiri atas biografi pengarang, kondisi psikologis pengarang, dan aliran sastra yang dianut pengarang.
3) Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra
Sebuah karya sastra termasuk cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut menggambarkan norma, tradisi, aturan, dan kepercayaan yang dianut atau dilakukan oleh masyarakat. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai moral, sosial, budaya atau adat istiadat, dan religi.
a. Nilai Moral
Nilai moral adalah nilai kehidupan yang berkaitan akhlak atau budi pekerti (baik dan buruk).
Contoh:
Yaitu berbakti kepada orang tua, jujur, sabar, ikhlas.
b. Nilai Sosial
Nilai sosial adalah nilai kehidupan yang terkait dengan norma atau aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai sosial berhubungan dengan orang lain.
Contoh:
Saling memberi, tenggang rasa, dan saling menghormati pendapat orang lain.
c. Nilai Budaya
Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebiasaan atau tradisi yang berlaku dalam masyarakat. 
Contoh:
Adat istiadat perkawinan atau kematian, adat istiadat berpakaian, budaya kesenian, dan upacara adat.
d. Nilai Religi
Nilai religi adalah nilai yang berkaitan dengan kehidupan beragama.'
Contoh:
Cara beribadah kepada Tuhan dan sistem kepercayaan
e. Nilai Politik
Nilai politik merupakan nilai-nilai berkaitan dengan gejolak tata pemerintahan disuatu daerah. Gejolak tersebut menjadi latar cerita. Latar peristiwa politik dijadikan salah satu dokumen sejarah bangsa.

2. Unsur Intrinsik Cerpen
1) Tema
Tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Tema dapat bersinonim dengan ide utama dan tujuan utama. Jadi, tema merupakan gagasan dasar umum, dasar cerita sebuah karya yang digunakan untuk mengembangkan cerita. Tema yang sering diangkat dalam karya adalah masalah kehidupan. Masalah tersebut berupa pengalaman bersifat individual dan sosial. Contoh tema yang diangkat, antara lain cinta, kesetiakawanan, dan keadilan.
2) Latar
Latar adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
a. Latar tempat
Latar tempat menyarankan pada lokasi terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.
b. Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.
c. Latar sosial
Latar sosial menyaran pada unsur-unsur yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap.
3) Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Pelukisan gambaran tokoh cerita ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan aspek yang dilakukan dalam tindakan.
4) Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita.
5) Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita. Pesan dalam sebuah cerita mencerminkan pandangan hidup pengarang. Pesan yang ingin disampaikan pengarang disebut pesan moral. Pesan moral tersebut dapat berupa penerapan sikap dan tingkah laku para tokoh yang terdapat pada sebuah cerita. Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh tersebut diharapkan dapat menyajikan hikmah.
6) Alur
Alur adalah peristiwa yang jalin-menjalin berdasarkan urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasarkan urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalinan berbagai peristiwa baik secara lurus maupun secara sebab-akibat membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

Metode Penulisan Teks Cerpen

1. Teknik Metode Dramatik

Metode dramatik adalah metode di mana pengarang menampilkan tokoh secara tidak langsung atau tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan serta tingkah laku tokoh. Untuk mengetahui sifat tokoh, pembaca harus menafsirkan sendiri setiap bentuk ucapan, pikiran, perbuatan, bentuk fisik, lingkungan, reaksi, ucapan, dan pendapat karakter tersebut.

Penampilan tokoh cerita dengan menampilkan atau menggunakan metode dramatik dilakukan secara tidak langsung. Sang pengarang membuat setiap tokoh memperlihatkan karakter-karakternya melalui tingkah laku, peristiwa yang terjadi, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti kejadian-kejadian yang terjadi di sebuah karya fiksi tidak hanya untuk memperkembangkan plot, tetapi menceritakan pendirian masing-masing tokoh.

Teknik penokohan ini lebih efektif daripada teknik penokohan analitik, karena berfungsi ganda, kaitan yang erat antara berbagai unsur fiksi ini lebih realistik, sangatlah mungkin tokoh baru, teman baru, pekerjaan, dan lain sebagainya. Namun, kekurangannya seringnya muncul penafsiran ganda akan watak para tokoh.

2. Teknik Metode Analitik

Metode analitik adalah pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh dengan cara menyebutkan sifat-sifatnya. Pengarang mencantumkan watak tokoh, misalnya keras kepala. Metode analitik adalah metode di mana pengarang menggambarkan watak-watak tokoh dengan mendeskripsikan wataknya secara langsung.

Tokohnya dihadirkan ke hadapan pembaca dengan tidak berbelit-belit (sifat, watak, tingkah laku, dan ciri fisik). Teknik penokohan ini sangat sederhana dan ekonomis karena tidak membutuhkan banyak deskripsi. Dengan ini, sang pembaca tidak perlu berpikir lagi akan watak tokoh tersebut. Namun, sang pengarang harus tetap memerhatikan konsistensi karakter setiap tokoh. Sang pengarang harus tetap mempertahankan dan mencerminkan pola kedirian tokoh itu.

Cara-cara mempertahankan metode analitik adalah dengan konsistensi dalam pemberian sifat, sikap, watak, tingkah laku, dan juga kata-kata yang keluar dari tokoh yang bersangkutan. Namun, sisi negatif dari teknik penokohan ini adalah sang pembaca tidak ikut serta secara aktif berpikir dan menafsirkan sendiri karakter-karakter dalam cerita. Tapi dengan ini adanya kemungkinan salah tafsir menjadi kecil.

Berikut ini adalah contoh metode analitik dalam teks cerpen
Contoh 1
Artur, bukan Giovan. Orang berbadan tegap yang berdiri di seberang jalan. Rambutnya sudah memutih meski ia baru berumur 34 tahun. Ia lalu mengangkat tangannya. Tangan yang putih kecokelatan. Ia seperti terlihat menggigil. Ku coba untuk bertanya kepadanya.
Contoh 2
Karin memang sangat menarik. Dia cantik dengan rambut ikalnya yang panjang. Hidungnya kecil dan lancip, matanya yang lebar dilengkapi dengan bulu mata yang lebat dan lentik. Wajahnya disempurnakan dengan bibirnya yang merah, meski tak memakai lipstik. Dia sangat supel sehingga disukai teman-temannya. Teman-temannya pun beragam-ragam mulai dari kalangan ekonomi lemah sampai dengan ekonomi atas. Karin sendiri berasal dari keluarga yang kaya, tetapi sangat mengedepankan kesederhanaan. Tak heran kalau Karin terbiasa rajin dan rapi untuk urusan pribadinya.

Contoh Teks Cerpen

Berikut ini adalah salah satu contoh teks cerpen yang berjudul 'Mbok Jah' dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun contoh cerpennya adalah sebagai berikut.
 
Mbok Jah

Sudah dua tahun, baik pada lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak "turun gunung" keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono di kota. Meskipun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Dua puluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saja kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dari seluruh keluarga itu telah memberi rasa aman, tenang, dan tenteram.

Buat seorang janda yang sudah terlalu tua untuk itu, apalah yang dikehendaki lagi selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan, tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan istri dan anak-anaknya rupanya begitu erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Akan tetapi, waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpangan gratis dan harga dirinya memberontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang ke desanya.

Dia masih memiliki warisan sebuah rumah desa yang meskipun sudah tua dan tidak terpelihara akan dapat dijadikannya tempat tinggal di hari tua. Dan juga tegalan barang sepetak dua petak masih ada juga. Pasti semuanya itu dapat diaturnya dengan anak jauhnya di desa. Pasti mereka semuanya dengan senang hati akan menolongnya mempersiapkan semua itu. Orang desa semua tulus hatinya. Tidak seperti kebanyakan orang kota, pikirnya. Sedikit-sedikit duit, putusnya.

Maka dikemukakannya ini kepada majikannya, Majikannya beserta seluruh anggota keluarganya yang hanya terdiri dari suami istri dan dua orang anak protes keras dengan keputusan Mbok Jah. Mbok Jah sudah menjadi bagian yang nyata dan hidup sekali di rumah tangga ini, kata Ndoro Putri. Selain itu, siapa yang akan mendampingi si Kedono dan si Kedini yang sudah beranjak dewasa., desah Ndoro Kakung. "Wah sepi lho, Mbok, kalau tidak ada kamu. Lagi, pula siapa yang dapat bikin sambel terasi yang begitu sedap selain kamu, Mbok " tukas Kedini dan Kedono.

Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh Mbok Jah. Tetapi, keputusan Mbok Jah sudah mantap. Tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya, diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan turun gunung dua kali dalam setahun, yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.

Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri, dia memang datang. Seluruh keluarga Mulyono senang setiap kali dia datang. Bahkan, Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk-duduk menglesat di halaman masjid kraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya bersembunyi tang-tung-tang-tung-grombyang itu. Malah lama kelamaan mereka dapat ikut larut dan menikmati suana Sekaten di amsjid itu.
"Kok suaranya aneh ya, mbok. Tidak seperti gamelan kelenengan biasanya."
"Ya, tidak Gus, Den Rara. Ini gending keramatnya Kanjeng Nabi."

"Lha, ya tidak. Kalau mau mendengarkan dengan nikmat, pejamkan mata kalian. Nanti kalian akan dapat masuk.'
Mereka menurut. Dan betul saja, lama-lama suara gemelan Sekaten itu enak juga didengar.

Selain Sekaten dan Idul Fitri itu, peristiwa menyenangkan dengan kedatangan Mbok Jah ialah oleh-oleh Mbok Jah dari desa. Terutama jadah yang halus, bersih, dan gurih. Kehebatan Mbok Jah menyambal terasi pun juga tak kunjung surut.

Dikutip dari Buku Kreatif Berbahasa dan Bersastra Indonesia.


Demikianlah yang dapat admin bagikan kali ini. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru dan juga anak didik dalam mencari referensi terkait dengan apa yang telah dibagikan di atas. Dan selanjutnya, apa yang sudah dibagikan di atas dapat memberikan dampak positif yang baik kepada perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami materi yang telah dijelaskan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah berkaitan dengan penjelasan di atas. Dan bagi Bapak/Ibu Guru harapannya, kiranya Bapak dan Ibu Guru selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang di dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sukses selalu buat kita semua di mana pun berada, kiranya rahmat Tuhan selalu menyertai. Sekian dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Teks Cerpen | Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur-Unsur, Kaidah Bahasa, dan Contoh Teks Cerpen

Beranda / Google.com / Google.co.id / YouTube.com / Disclaimer