"KUMPULAN REFERENSI PEMBELAJARAN TENTANG PENGERTIAN"

Senin, 21 Oktober 2019

Pengertian Imaji dalam Teks Puisi | Unsur-Unsur Teks Puisi Kelas VIII (Delapan) Revisi



Daftar Isi [Tampil]
searchpengertian.com | Selamat datang di searchpengertian. Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan pengertian imaji dalam unsur-unsur teks puisi bahasa Indonesia kelas VIII (Delapan) revisi terbaru. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang pengertian imaji dalam unsur-unsur teks puisi bahasa Indonesia. Dam mudah-mudahan apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami pengertian imaji dalam unsur-unsur teks puisi bahasa Indonesia.

Pengertian Imaji dalam Teks Puisi | Unsur-Unsur Teks Puisi Kelas VIII (Delapan) Revisi
 www.searchpengertian.com

A. Pengertian Imaji
Imaji merupakan gambaran kata atau susunan kata yang dapat memperjelas maksud yang dinyatakan oleh penyair. Pengimajian dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Pengimajian menggambarkan sesuatu yang seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil).

Imaji (image) adalah gambaran, kesan, bayang-bayang, atau apa yang ada dalam pikira ketika kita membayangkan atau mengingat sesuatu. Imaji bisa berupa gambaran visual, suara, bau, rasa, atau gabungan dari semua penginderaan itu. Ketika misalnya sang kekasih berkata: ingatkah engkau ketika ketika berdua berkejar-kejaran di pasir pantai, sementara ombak bergulung-gulung seakan-akan ikut berlari bersama kita? 

Imaji merupakan unsur yang cukup penting dalam puisi. Puisi yang tak mampu membangkitkan imaji pembacanya boleh dikatakan sebagai puisi yang gagal. Imaji membuat puisi menjadi hidup dan bergerak. Imaji bisa ditimbulkan dengan menghadirkan benda-benda konkret, memposisikannya dalam bentuk personifikasi atau metafora. Beberapa penyair bahkan menempatkan imaji sebagai unsur yang dominan dalam puisi mereka. Misalnya Sapardi Djoko Damono, puisi-puisi liriknya membuatnya dikenal sebagai penyair imajis. 

B. Contoh Puisi Imaji
Berikut ini adalah beberapa contoh puisi imaji dari Sapardi Djoko Damono dan beberapa pengarang puisi terkenal lainnya. Adapun beberapa puisi dari Sapardi Djoko Damono yang mengandung banyak imaji adalah sebagai berikut.

Dukamu Abadi
Karya: Sapardi Djoko Damono

Masih terdengar sampai di sini 
dukaMu abadi. Malampun sesat terhenti
sewaktu dingin pun terdiam, di luar 
langit yang membayang samar
Kueja setia, semua yang sempat tiba
sehabis menempuh ladang kain dan bukit
Golgota
sehabis menyekap beribu kata, di sini
di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu jua, yang dahulu
yang meniupkan zarah ruang dan waktu
yang capai menyusun huruf. Dan terbaca: sepi manusia, jelaga

Mata Pisau
Karya: Sapardi Djoko Damono

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

Bola Lampu
Karya: Sapardi Djoko Damono

Sebuah bola lampu menyala tergantung 
dalam kamar. Lelaki itu menyusun jari-
jarinya dan bayang-bayangnya tampak di
dinding; "Itu kijang," katanya. "Hore!"
teriak anak-anaknya, "sekarang harimau!"
"Itu harimau." Hore! "Itu gajah, itu babi hutan, itu kera..."
Sebuah bola lampu ingin memejamkan
dirinya. Ia merasa berda di tengah hutan.
Ia bising mendengar hingar-bingar
kawanan binatang buas itu. Ia tiba-tiba 
merasa asing dan tak diperhatikan.

Teratai
Karya: Sanusi Pane

Kepada Ki Hajar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi laksmi mengenang
Biarpun ia diabagaikan orang 
Semoga kembang gemilang mulia
Teruslah oh teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman

Pahlawan Tak Dikenal
Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilaman ia datang
Kedua tangannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang tampak wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring 
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Raden Ajeng Kartini
Karya: Sides Sudiyarto Ds

Bagai lilin menyala dalam gelap semesta
Kau terangi kaum wanita Indonesia
Hingga mampu meraba jalan masa depan
Melawan nasib yang tiada nyata arahnya
Bagai kunang-kunang berkelip dalam kelam
Kau sinari langit kelabu udara beku
Cahaya juangmu membimbing bangsa melangkah maju
Meski jauh jalan berliku penuh batu
Kartini yang agung
Penyuluh kemajuan pendorong kebangkitan
Kuntum bunga pujaan nusantara
Juangmu terpatri dalam sejarah bangsa

Nenek Pejuang
Karya: Sides Sudiyarto Ds

Seorang nenek miskin berjalan merangkak
Tertatih-tatih langkahnya jatuh bangun
Lalu kembali merangkak dengan pakaian bercabik-cabik
Menuju jalan raya yang sepi senyap
Di tangannya ada sebungkus nasi
Terbungkus dengan daun jati
Dengan secubit garam putih
Dan setangkai cabe merah di tepinya
Nenek yang tua itu kembali ke gubuknya
Ia beristirahat meredakan nafasnya
Kemudian terdengar letusan senjata
Sebutir peluru mencabut nyawa nenek tua itu
Ia mati sunyi
Ia mati dalam sepi
Untuk kemerdekaan negeri ini
Untuk kebebasan Republik ini

Selamat Jalan Pahlawan
Karya: Grace

Ku kirim doa
Untuk kusuma bangsa
Padamu putra-putri tercinta
Engkau berdaya upaya, berjuang
Menyelamatkan para penumpang
Bergelut dengan badai dan bara
Sampai pada akhirnya
Nyawamu kau korbankan
Keluarga kau tinggalkan 
Dengan penuh haru ku ucapkan 
Selamat jalan pahlawan
Semoga arwahmu
Diterima Tuhan, Amin

Hidup Adalah Perjuangan
Karya: Seysar Inggar Tofani

Pejuang sejati
Bukanlah orang yang berani mati
Melainkan orang yang berani 
Menghadapi tantangan hidup ini
Aku ini kecil dan lemah
Aku tak menyerah
Aku rajin ke sekolah
Aku belajar tak kenal lelah
Aku ingin berkualitas dan berdaya
Aku ingin bermanfaat dan berguna
Aku ingin hidupku penuh makna
Dan sesungguhnya,
Sebaik-baiknya manusia adalah
Yang bermanfaat dan berguna
Bagi sesamanya


Demikianlah yang dapat admin bagikan kali ini. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru dan juga anak didik dalam mencari referensi terkait dengan apa yang telah dibagikan di atas. Dan selanjutnya, apa yang sudah dibagikan di atas dapat memberikan dampak positif yang baik kepada perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami materi yang telah dijelaskan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah berkaitan dengan penjelasan di atas. Dan bagi Bapak/Ibu Guru harapannya, kiranya Bapak dan Ibu Guru selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang di dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sukses selalu buat kita semua di mana pun berada, kiranya rahmat Tuhan selalu menyertai. Sekian dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Imaji dalam Teks Puisi | Unsur-Unsur Teks Puisi Kelas VIII (Delapan) Revisi

Beranda / Google.com / Google.co.id / YouTube.com / Disclaimer