"KUMPULAN REFERENSI PEMBELAJARAN TENTANG PENGERTIAN"

Jumat, 27 September 2019

Pengertian Alur dan Jenis-Jenisnya dalam Karya Sastra | Bahasa Indonesia Kelas 9 Revisi



Daftar Isi [Tampil]
Alur | Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang pengertian dan jenis-jenis alur dalam sebuah karya sastra khususnya teks cerpen. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang pengertian dan jenis-jenis alur dalam sebuah karya sastra khususnya teks cerpen. Dan semoga apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami pengertian dan jenis-jenis alur dalam sebuah karya sastra khususnya teks cerpen.

Pengertian Alur dan Jenis-Jenisnya dalam Karya Sastra | Bahasa Indonesia Kelas 9 Revisi

Pengertian Alur

Alur adalah jalan cerita yang dibuat oleh pengarang dalam menjalin kejadian secara beruntun dengan memerhatikan sebab-akibat sehingga menjadi kesatuan yang bulat atau utuh. Alur disebut juga plot. Alur yang membangun suatu karya terbagi atas beberapa macam sebagai berikut.

Tahap-Tahap  Alur

Berikut ini adalah beberapa tahap alur dalam cerpen (Burhan Nurgiyantoro, 2002: 149-150) dibagi menjadi beberapa tahap. Adapun tahap-tahap yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.
  1. Tahap penyituasian/pengenalan, tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
  2. Tahap pemunculan konflik/penampilan masalah, tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik. Konflik akan berkembang menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.
  3. Tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang. Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.
  4. Tahap klimaks, konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan ke para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama.
  5. Tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Ketegangan dikendurkan. Konflik-konflik tambahan (jika ada) juga diberi jalan keluar, lalu cerita diakhiri. Tahap ini disesuaikan dengan tahap akhir di atas.
Jenis-Jenis Alur

1. Alur Maju
Bagian alur disajikan secara berurutan dari tahap perkenalan atau pengantar, dilanjutkan dengan tahap penampilan masalah, dan diakhiri dengan tahap penyelesaian.

2. Alur Mundur
Alur ini disusun dengan mendahulukan tahap penyelesaian atau tahap peruncingan masalah, lalu disusun dengan tahap-tahap lain yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang mendahului. 

3. Alur Gabungan
Alur ini merupakan perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Maksudnya, susunan penyajian urutan peristiwa diawali dengan puncak ketegangan, lalu dilanjutkan dengan perkenalan, dan diakhiri dengan penyelesaian. Alur gabungan juga menceritakan peristiwa yang diawali tokoh saat ini disertai peristiwa yang dialami tokoh pada masa lalu, misalnya tiga hari yang lalu atau pada masa kanak-kanak.

Contoh Cerpen

Di bawah ini adalah contoh teks cerpen yang berjudul "Gunung Kidul" dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun contoh teks cerpennya adalah sebagai berikut.

Gunung Kidul

Angin tajam sekali. Kelam menyelimuti teratak doyong itu. Dingin mengempa. Di tengah kemurungan suasana itu, ada hidup di dalam teratak yang ada cahayanya. Teratak itu hanya mempunyai satu ruangan. Tidak ada sekat-sekatnya. Mejanya persis di tengah dengan sebuah kursi panjang bambu. Di sudut tenggara, lantai dari tanah: becek di sekitar tempat sebauh gentong berdiri.
Pada sudut itu disisipkan tiga buah piring seng dan sebuah sendok yang kekuning-kuningan. Pada susdut barat daya, sebuah peti ukuran 1 X 1 X 1 m kubik yang terbuka: sebuah peti beras yang di dalamnya putih, tapi kosong. Hanya ada kutu-kutu yang berkeliaran tak tentu tujuan. Di dekatnya, ada sebuah perapian yang tidak ada apinya. Ada dua potong cabang yang ditusukkan ke dalam lubangnya. Di atasnya, ada kendil hitam yang kosong. Agak jauh sedikit, ada sebuah pengki yang bambunnya sudah busuk. Isinya rumah bekicot yang pecah-pecah, dagingnya sudah hilang.
Lampu yang terbuat dari botol pomade dengan sumbu dan minyak, menerangi segenap sudut teratak. Juga sudut barat laut. Di sana, ada sebuah bale-bale juga doyong yang di hampari tikar yang lubang-lubangnya sebesar kepala manusia. Di atas bale-bale itulah, Mbok Kromo mengelon Atun, anaknya yang berumur 5 tahun.
"Mbok, maem Mbok, maem," kata anak kecil itu berulang-ulang dan tidak mau tidur. Kemudian ibunya mulai menceritakan lago ongeng "Joko Kendil", yang terlepas dari sengsara dan menjadi orang yang tampan, mujur, kaya, dan bahagia. Tetapi setiap kali ia berhenti bercerita, anaknya merengek-rengek lagi minta makan. Mbok Kromo membayangkan kendilnya di sudut rumah yang kosong.
"Mbok, Bapak mana?" tanya anak itu mengalihkan pertanyaan.
"O, Bapak mencari Joko Kendil. Nanti, ia akan pulang membawa kendil yang berisi nasi."
Anak itu tersenyum puas mendengar kata nasi digabungkan dengan Joko Kendil, pahlawannya. Kemudian, ia mengerak-gerakkan kakinya sambil bermain-main dengan tetek ibunya yang kendur dan kering itu.
Sebentar-bentar, ia menguap, tetapi perutnya tak mengizinkan matanya terkatup. Apalagi ia teringat lagi hal itu, ia mulai lagi merengek-rengek, "Mbok, maem!"
Ibunya menceritakan dongeng Timin Mas, anak gadis seperti Atun yang melarikan diri dari kejaran "buto ijo" dengan membawa tiga benda sakti, yang jika dilemparkan, berubah jadi rintangan yang menghambat dan akhirnya membinasakan raksasa galak itu. Akhirnya di cerita itu ialah Timun Mas kawin dengan pangeran negerinya dengan pesta besar-besaran dengan perjamuan makan lezat dan minum yang segar seperti kelapa muda.
Atun sudah puas sejurus lamanya mengenangkan makanan dan minuman yang enak-enak yang dihidangkan pada pesta perkawinan Timun  Mas. Akan tetapi beberapa saat kemudian, ia mulai lagi mengulangi pertanyaan yang lama, "Mbok, Bapak mana, Mbok?" Maka jawab Mbok Kromo dengan sabar, "O, Bapak pergi ke pesta Timun Mas. Nanti ia pulang membawa berkatan nasi kuning dengan nasi-nasi lezat. Daging gule kambing yang penuh lemak; bukan daging keong yang liat dan apak."

Atun sangat gembira mendengar janji ibunya itu dan makin ribut ia mengerak-gerakkan kakinya sambil memilin-milin puting buah dada ibunya yang lembek. Tetapi akhirnya, ia minta makan juga sambil menguap-nguap mengantuk. Tak lama kemudian dengan sabar ibunya mencoba mengalihkan perhatian anaknya dengan dongeng Si Kancil Cerdik yang diterkam oleh harimau, tetapi dapat menyelamatkan dirinya, karena sedang mengaku menjaga kuil dodol Nabi Sulaiman, padahal yang ada di dekatnya itu tahi kerbau. Pada akhir cerita itu, Atun sudah tidak dapat mengatasi kantuknya lagi dan tertidur sambil berpengan pada ibunya dan mengular kedinginan. Sebentar-sebentar, kesunyian teratak itu diselingi bunyi perut yang menggiling dengan sia-sia.

Desa Padas termasuk daerah yang aman. sebagaimana adat di desa, senantiasa diadakan penjagaan malam juga oleh penduduknya sendiri. Pada jam 12 tengah malam, Simin dan Paidin jaga digardu di sudut desaitu. Mereka sudah membicarakan selamatan yang terakhir diadakan empat bulan sudah mereka tidak diundang keselamatan pada jaman paceklik ini?

Tiba-tiba bulu mereka berdiri, percakapan mereka tercekik oleh ketakutan. Burung kulik-kulik berbunyi sebentar-bentar dengan irama teratur.
"Kulik-kulik, kulik-kulik, kulik-kulik."

Kesunyian sangat menekan ketika burung malam itu berhenti berbunyi. Simin menyentuh bahu Paidin, "Mari jalan-jalan sebentar," ajaknya,"Kalau ada apa-apa kita disalahkan nanti."
"Bagaimana kalau betul ada maling?" tanya Paidin.

Simin berpikir sebentar, tangannya bergerak-gerak kosong seolah-olah mencari senjata.
"Kalau ada pencuri kita berteriak, "Maling, maling!" sampai orang-orang semua keluar. Kalau sudah kita kejar beramai-ramai," katanya kemudian.

Kemudian mereka berjalan dengan hati-hati sambil melemparkan pandangan jalan ke kanan dan ke kiri. Demikian besar kepercayaan mereka pada burung kulik-kulik sehingga mereka tidak heran ketika mendapati seorang laki-laki sedang mencabuti ketela Pak Sardi. Dengan suara mengigil mereka berteriak, "Maling! Maling! Maling!" dan dalam sekejap mata saja desa yang tentram dan damai itu penuh dengan laki-laki yang keluar membawa senjata pukul dan senjata tajam. Pencuri itu berlari sekuat-kuatnya dikejar oleh Simin dan Paidin pada jarak yang cukup.

Tetapi akhirnya, seluruh desa berlari di belakang sambil menghamburkan kutukan-kutukan dan maki-makian yang di dalam keadaan biasa akan membuat Tuhan murka. Pemburuan itu tidak lama karena tepat pada pekarangan Pak Kromo, pencuri itu terhuyung-huyung lalu rebah ke tanah. Sebagai air anak sungai yang terjun ke induknya, laki-laki yang banyak itu membanjiri ke tempat pencuri itu jatuh dan mulai menghantam senjata-senjata tumpulnya ke tubuh yang terengah-engah lemah itu. Semua orang mau ikut ambil bagian dalam pemukulan itu.

Mereka yang membawa golok, menyisipkannya pada ikat pinggangnya lalu meminjam kayu yang dibawa oleh temannya, dan sambil mencetuskan bunyi 'hih" menjatuhkannya dengan bunyi kelapa jatuh ke badan yang sudah tak bergerak sama sekali itu. Lama-kelamaan setelah hampir seluruh desa mendapat giliran memukul, mereka insaf bahwa orang itu tak bergerak lagi.

"Coba kita lihat apa dia masih hidup," kata Simin dengan khawatir.
"Ya, mari!" kata banyak orang menyambutnya.

"Mari kita minta lampu kepada Pak Kromo!" ada seorang yang mengusulkan. Dan beberapa orang menuju ke pinti Pak Kromodan mengatakan "Kulo Nuwun!"

Pintu Pak Kromo dibukakan sedikit. "Pencurinya sudah tertangkap?" tanya dengan cemas.
"Sudah, itu dia terbaring di tanah kami pukuli. Ia mencuri ketela Pak Sardi. Sampai ia jatuh, ketela itu tidak dilepas-lepaskannya.

Pak Kromo apa tidak ada di rumah? Kami mau pinjam lampu untuk melihat siapa maling itu."
"Bapak pergi tadi sore sampai sekarang belum kembali. Tetapi, lampunya boleh dibawa." Ketika itu Atun merengek-rengek minta digendong. Ia terbangun oleh keributan yang terjadi di dekatnya itu. Dengan menggendong Atun, Mbok Kromo menggikuti orang-orang yang membawa lampunya menuju ke tempat orang-orang itu berkerumun.

Orang-orang menyingkir untuk memberi jalan kepada pemuda yang membawa lampu. Di dalam cahaya lampu itu, tampak badan pencuri itu bengkak, robek-robek serta berlumuran darah, keringat, dan tanah. Orang-orang yang berdekatan menelantangkannya. Lampu itu menyinari wajahnya yang menyeringai menakutkan. Semua orang yang melihat mundur selangkah.

"Ya Allah! ini Pak Kromo!" Kesunyian yang berat menyusul seruan yang menggemparkan itu. Kemudian," Ia sudah mati."

Simin dan Paidin menjauh tak tahan. Namun, mereka juga mendengar ratap Mbok Kromo yang sedang menangis dan mencabuti rambutnya yang terurai, dikelilingi laki-laki yang wajahnya penuh belas kasihan. Semua kayu telah dilemparkan jauh-jauh dan semua pisau dan golok disisipkan di belakang. Tetapi mengatasi suara ibunya, Atun menangis," Bapak, Bapak!" Keesokan harinya, seluruh desa mengantarkan jenazah Pak Kromo ke kuburan.

Nogroho Notosusanto, tiga kota


Demikianlah yang dapat admin bagikan kali ini. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru dan juga anak didik dalam mencari referensi terkait dengan apa yang telah dibagikan di atas. Dan selanjutnya, apa yang sudah dibagikan di atas dapat memberikan dampak positif yang baik kepada perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami materi yang telah dijelaskan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah berkaitan dengan penjelasan di atas. Dan bagi Bapak/Ibu Guru harapannya, kiranya Bapak dan Ibu Guru selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang di dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sukses selalu buat kita semua di mana pun berada, kiranya rahmat Tuhan selalu menyertai. Sekian dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Alur dan Jenis-Jenisnya dalam Karya Sastra | Bahasa Indonesia Kelas 9 Revisi

Beranda / Google.com / Google.co.id / YouTube.com / Disclaimer