"KUMPULAN REFERENSI PEMBELAJARAN TENTANG PENGERTIAN"

Kamis, 11 Februari 2021

Prinsip Menggambar Ragam Hias Seni Budaya Kelas VII Revisi Terbaru



Daftar Isi [Tampil]

Seni Budaya | Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan materi seputar prinsip-prinsip menggambar ragam hias dalam mata pelajaran seni budaya kelas VII revisi terbaru. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang prinsip-prinsip menggambar ragam hias dalam mata pelajaran seni budaya.

Prinsip Menggambar Ragam Hias Seni Budaya Kelas VII Revisi Terbaru

Gambar: freepik.com

Kita bersyukur kepada Tuhan yang Mahas Kuasa karena telah menganurahkan bangsa kita ini sebagai negara kepulauan. Berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial tahun 2013, Indonesia memiliki + 13.466 pulau. Banyaknya jumlah pulau turut menjadikan Indonesia negara dengan berbagai suku. Setiap suku secara turun-temurun mewariskan karya seni yang sangat banyak dan beragam.

Salah satu warisan karya seni tersebut adalah ragam hias atau yang disebut juga dengan ornamen. Ragam hias sebagai warisan budaya Indonesia akan tetap bertahan hidup sebagai pemuas rasa keindahan bagi manusia di masa sekarang maupun yang akan datang. Sudah menjadi hal umum bahwa ragam hias memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. 

Peranan tersebut khususnya untuk memenuhi kebutuhan akan cita rasa keindahan. Misalnya, dalam kriya tekstil, ragam hias diterapkan pada batin dan tenun, sedangkan dalam kriya kayu dan logam, ragam hias diterapkan pada peralatan rumah tangga, seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur.

Ragam hias disebut juga ornamen yang berasal dari kata ornare yang berarti menghiasi. Ragam hias merupakan salah satu karya seni rupa yang sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan pada suatu produk agar menjadi lebih indah dan bermakna.

Dengan penambahan ragam hias pada suatu produk, produk tersebut menjadi lebih indah dan menambah nilai ekonominya sehingga penghargaannya juga bertambah. Sebagai contoh, meja dan kursi dihiasi ukiran di seluruh atau sebagian permukaan nilai keindahan dan nilai ekonominya akan lebih tinggi dibandingkan meja dan kursi tanpa hiasan.

Ragam hias dapat juga digunakan sebagai identitas atau ciri khas suatu daerah. Misalnya, ragam hias Papua, ragam hias Kalimatan Timur, ragam hias Sulawesi Selatan, Ragam hias Lampung, Ragam hias Sumatera Utara, ragam hias Jawa Tengah, dan ragam hias Bali.

1. Ragam Hias Papua

Papua Batik Papua dengan keunikan corak dan motif yang eksotis, menambah keanekaragaman seni budaya batik Indonesia. Mengangkat perpaduan antara motif etnik khas Papua dengan warna-warna yang cerah membuat batik Papua ini memiliki keunikan tersendiri. Batik khas Papua kebanyakan berbahan dasar katun yang memiliki sifat lembut dan dapat menyerap keringat. Adapun pembuatannya adalah dengan cara ditulis atau bisa juga dicap, yang mana masyarakat Papua juga senang menggambarkan alam dan kebudayaan mereka di atas motif batik.

Biasanya, batik ini diproduksi di ibukotanya, yaitu kota Jayapura. Masyarakat Papua terbiasa bekerja bersama-sama dalam membuat batik. Dengan pembagian tugas, yakni para perempuan Papua membuat kreasi batik tulis, sedangkan para laki-laki akan mengerjakan batik cap.

Batik Papua bermula ketika Pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari United Nations Development Programme (UNDP) untuk program pemberdayaan kebudayaan di Indonesia bagian Timur pada tahun 1985. Dalam program pemberdayaan ini, pemerintah setempat secara khusus mendatangkan langsung pelatih batik dari Jawa, khususnya Yogyakarta.

Berikut beberapa motif batik Papua dengan berbagai filosofinya.

a. Motif Burung Cenderawasih

Burung Cendrawasih yang fauna khas tanah Papua, memiliki bulu dan ekor yang indah. Lewat batik motif cendrawasih ini seolah menyampaikan pesan dari mana batik ini berasal. Yang mana motif yang melekat menggambarkan kedekatan dengan alam yang lebih nyata. Warna-warna batiknya didominasi dengan warna hijau, merah, kuning yang keemasan.

b. Motif Tifa Honai

Batik Tifa Honai memiliki makna filosofis yang mendalam, yakni rumah yang penuhi dengan kebahagian. Terinspirasi dari keindahan tanah Papua, seperti sumber mata air dan pemandangannya yang indah. Juga Tifa merupakan alat musik Sali dari tanah Papua. Kekhasan Batik ini terletak pada motifnya yang terlihat anggun dan menarik yang menyemarakkan penampilan.

c. Motif Kamoro

Batik motif Kamoro memperkenalkan keindahan alam serta keunikan seni ukir Suku Kamoro. Motif batiknya melambangkan simbol Patung Berdiri membawa tombak. Keunikannya terletak pada perbedaan gaya, ekspresi patung, baju atau aksesoris. Warna-warnanya pun cenderung lebih cerah, seperti kombinasi biru dan hijau, hitam dan kuning, merah dan merah muda.

d. Motif Asmat

Batik motif asmat mempunyai ciri-ciri yang sangat khas yaitu corak ukiran khas suku Asmat, seperti ukiran patung-patung duduk kayu suku Asmat. Batik ini juga memiliki warna yang lebih cokelat dengan campuran warna tanah. Motif yang berasal dari salah satu suku asli Papua ini merupakan salah satu batik populer.

e. Motif Sentani

Batik motif Sentani memiliki ciri khas gambar alur batang kayu yang melingkar-lingkar dengan jenis warna hanya satu atau dua warna dan ada pula motif variasi dengan sentuhan garis-garis emas. Memiliki julukan batik prada, Batik Sentani menggambarkan tanah Papua yang masih subur dengan hutan-hutan lebat dan segala kekayaan alamnya.

2. Ragam Hias Kalimantan Timur

Motif-motif batik Kalimantan Timur biasanya dimodifikasi oleh para pengrajin sehingga terlihat indah dan lebih modern. Akan tetapi, tetap ada ciri khas tersendiri seperti penggunaan warna yang berani namun tetap enak dipandang. Warna-warna yang biasanya digunakan antara lain hijau, pink, orange, dan merah. Selain itu, motif batik Kalimantan Timur juga sangat dipengaruhi oleh budaya.

Sebagian besar berasal dari suku Dayak. Tapi ada pula yang dipengaruhi oleh suku Kutai dan Bugis. Lantas, apa sajakah motif batik yang ada di sana? Berikut ulasan dari beberapa motif.

  • Motif Batang Garing, motif batik Batang Garing ini berasal dari suku Dayak dan menjai simbol pohon kehidupan.
  • Motif Batik Mandau, motif batik Mandau ini juga berasal dari suku Dayak dan menjadi simbol senjata khas suku Dayak.
  • Motif Batik Burung Enggau, motif batik Burung Enggau ini berkaitan dengan fauna asal Kalimatan yaitu burung Enggau.
  • Motif Batik Shaho, motif batik Shaho ini diadopsi dari berbagai ukiran dan lukisan suku Dayak. Bentuk dasarnya melengkung karena terispirasi dari liukan akar dan ranting pohon, spiral, lingkaran, serta patung manusia.
  • Motif Batik Kabupaten Kutai Timur, motif batik Kabupaten Kutai Timur ini memiliki motif pakis, anggrek hitam, klubut, akaroros, burung enggang, burung mbui, dan beringin duduk. 

3. Ragam Hias Sulawesi Selatan

Produk daerah Sulawesi Selatan bukan hanya kain tenun saja. Batik juga menjadi bisnis lokal masyarakat setempat yang sangat berkembang pesat. Sama halnya dengan motif batik dari berbagai daerah lainnya seperti batik jogja yang jadi favorit wisatawan, batik khas Sulawesi Selatan juga memiliki motif yang kaya makna. Terutama motif-motif yang memiliki nilai filosofi untuk mengenalkan budaya Sulawesi Selatan.

Lalu, apa saja motif batik Sulawesi Selatan yang paling populer? Mayoritas motif batik Tana Toraja diambil dari kehidupan keseharian serta kebudayaan masyarakat setempat. Batik khas Toraja diperkirakan sudah ada sejak abad ke V yang dipercaya digunakan sebagai media untuk mengungkapkan ide dan gagasan nenek moyang terdahulu. Umumnya, warna batik produk daerah masyarakat Toraja tidak jauh dari hitam, kuning, putih, dan merah. Nah, berikut ini adalah beberapa motif batik khas Tana Toraja:

a. Motif Pa’tedong

Motif batik Sulawesi Selatan yang pertama adalah Pa’tedong atau kepala kerbau. Perlu diketahui bahwa kerbau merupakan hewan yang sangat dihormati dan menjadi peliharaan kesayangan masyarakat Toraja. Kerbau mempunyai filosofi penting yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Toraja. Oleh karena itu, setiap rumpun keluarga masyarakat Toraja diharapkan memelihara ternak kerbau karena menjadi lambang kehidupan yang dipercaya membawa kemakmuran. Atas alasan ini pula, kerbau diangkat menjadi motif batik yang sangat cantik dengan filosofi makna yang sangat mendalam.

b. Motif Ne’ Limbongan

Dari sekian banyak motif batik khas Sulawesi Selatan, ada sebuah motif yang bentuknya seperti arah mata angin. Motif batik seperti ini dinamakan dengan motif Ne’ Limbongan. Tentu saja, motif ini juga memiliki filosofi tersendiri. Ne’ Limbongan adalah motif yang menggambarkan sumber mata air yang tak pernah kering. Gambar dari motif ini adalah berbentuk aliran air yang memutar dimana terdapat panas padah keempat arah mata angin. Makna dari motif ini adalah bahwa rezeki yang melimpah datang dari empat penjuru. Dengan banyaknya limpahan rezeki, maka diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat Toraja untuk lebih gigih dalam bekerja.

c. Motif Pare Allo

Motif batik khas Toraja yang tak kalah populer dan memiliki filosofi mendalam adalah motif Pare Allo. Motif ini berbentuk layaknya matahari yang selalu memancarkan cahaya atau sinarnya. Pare Allo sebenarnya merupakan motif ukiran kuno yang disebut juga dengan Paqbaree Allo. Barre memiliki arti ‘bulatan’, sementara Allo memiliki arti ‘matahari’. Jadi, ukiran Pare Allo berbentuk bulatan matahari lengkap dengan sinarnya. Motif ini dimaknai sebagai kearifan dan ilmu pengetahuan yang selalu menerangi rakyat Toraja layaknya sebuah matahari. Banyak bisnis lokal masyarakat Toraja yang membuat kreasi batik motif Pare Allo.

d. Motif Pisau Toraja

Selain ketiga motif yang terinspirasi dari ukiran-ukiran kuno, ada juga batik khas Toraja yang sudah mendapatkan sentuhan modern. Salah satunya adalah motif Pisau Toraja yang dikombinasikan dengan motif lainnya agar tampak lebih fleksibel. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Toraja punya senjata khas yang menjadi kebanggaannya. Maka dari itu, pisau Toraja ini pun ikut dituangkan ke dalam karya kain batik yang sangat luar biasa. Motif ini pun lebih modern dan tampak sangat menarik.

e. Motif Aksara Lontara

Satu lagi motif batik Toraja yang cukup modern, yaitu motif Aksara Lontara. Tujuan dari penggunaan Aksara Lontara sebagai motif batik adalah supaya mengenalkan aksara kuno tersebut kepada masyarakat luas. Motif aksara lontara semakin menarik karena dikombinasikan dengan aneka motif lainnya serta warna-warna yang membuatnya tampak semakin mempesona. Dengan produk daerah ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang apa itu aksara lontara.

4. Ragam Hias Lampung

Sebagai daerah yang padat penduduk dan dikelilingi oleh lautan di tiga penjuru, Lampung menjelma sebagai wilayah yang padat untuk berdagang. Tak sedikit orang Jawa bahkan memilih bermigrasi dan menetap di Lampung karena kondisi lahan dan tanahnya yang dirasa memberikan sejumlah keuntungan. Perkembangan yang begitu melesat tersebutlah yang memicu sejumlah pedagang memasuki kota ini dengan membawa beragam pengaruh. Seperti misalnya memberikan inspirasi atas munculnya batik Lampung yang kini dijadikan kain dasar seragam PNS dengan motif-motif sembaginya. Adapun motif-motif dari ragam hias Lampung adalah sebagai berikut.

a. Batik Tapis Lampung

Keberadaan batik tapis Lampung diperkirakan sudah diketahui sejak zaman Hindu kuno atau sekitar abad kedua belas atau ketiga belas. Bahkan beberapa orang mengatakan jika batik ini sudah ada seja zaman pra sejarah. Akibat adanya pengaruh besar dari kebudayaan Hindu, maka dalam proses pembuatan ragam hias ini, tentu memberikan pengaruh pada nilai serta makna simbolik di dalamnya. Hal ini makin dipertegas dengan adanya unsur ornamen flora dan fauna khas Indonesia yang begitu lekat dengan kehidupan spiritual serta kepercayaan masyarakat Hindu.

Tidak hanya Hindu, batik tapis juga bercampur dengan kebudayaan agama Budha dan Islam yang mulai masuk pada abad ke-15, sehingga mampu memperkaya beberapa ornamen ragam hias di bidang kainnya. Kendati begitu, keberadaan unsur atau ornamen baru tak serta merta menghilangkan unsur lama atau lawasan, yang mana ketiganya membaur satu. Kemudian pada tahun ’70-an, batik ini mulai dikembangkan oleh seorang Budayawan Lampung bernama Andrean Sangaji.

Batik tapis biasanya dibuat dan dipakai oleh para wanita. Dulu saat masih awal mula berkembang, batik ini dianggap sakral sehingga kepentingannya adalah untuk kegiatan adat. Namun sekarang, hasil kerajinan tangan ini pun menjadi oleh-oleh atau juga kain khas yang sejalan dengan kehidupan masyarakatnya.

b. Batik Motif Pohon Hayat

Bentuk ornamen atau ragam hias pohon hayat adalah perwujudan sebagai bentuk keyakinan yang sifatnya universal dan artinya kepercayaan tersebut berkiblat pada beberapa agama seperti Hindu, Islam, Budha, Khatolik, Kristen dan lainnya. Pohon hayat sendiri termasuk batik asal lampung yang melambangkan persatuan dan KeTuhanan yang Maha Esa sebagai pencipta alam mesta.

c. Motif Gajah dan Kapal

Kapal merupakan moda transportasi yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat Lampung. Hal ini sebabkan oleh adanya perbatasan propinsi Lampung di bagian barat, selatan, dan timur yang diisi oleh perairan laut. Selain itu, banyak titik sungai besar di Provinsi Lampung, sehingga tak sedikit kapal atau perahu yang melintasi wilayah perairan tersebut karena memang digunakan sebagai sarana transportasi demi menunjang aktivitas sehari-hari, baik sosial maupun perdagangan.

Motif Kapal sendiri mengandung filosofi yang mendalam, yakni lambang keselarasan, keseimbangan, dan simbiosis antara kehidupan manusia dengan alam di sekitarnya. Ditambah lagi penampakan kapal erat kaitannya dengan wilayah perairan Indonesia, yang mana merupakan negara kepulauan dengan dikelilingi oleh lautan sehingga disebut sebagai negara maritim. Berdasarkan kegunaannya, motif Kapal ada beberapa jenis seperti tampan atau nampan, Pelepai, dan Tatibin. Namun yang paling sering kita lihat adalah ragam hias fauna yang terkenal dari Lampung, yakni gajah yang berdiri pada dek kapal bagian tengah sebagai hewan prestisius.

d. Batik Sembagi

Batik motif sembagi merupakan warisan budaya yang kini dijadikan simbol dan ikon khas provinsi Bandar Lampung. Motif ini pertama kali diperkenalkan dan diluncurkan oleh Aan Ibrahim pada tahun 1999. Saat itu, Aan merasakan kegundahan serta kegalauannya dalam keseberagaman batik Lampung yang ia rasa kurang tampak ciri khasnya. Akhirnya, dalam satu dekade berjalan, ia mampu membuat serta mempopulerkan motif batik sembagi pada para pecinta fashion, terutama di kalangan tata busana.

Saat awal dipamerkan ke publik, batik ini kerap dipadupadankan dengan kebaya dan pakaian khas Lampung seperti sulam usus dan model lainnya. Seiring perkembangannya, batik sembagi akhirnya dipatenkan menjadi motif dasar untuk seragam resmi (baju kerja) pegawai negeri sipil (PNS) di Lampung. Berkat eksistensi yang menanjak, batik ini pun akhirnya menempati tren pertama sebagai motif batik Lampung yang paling terkenal sekaligus paling menonjol di daerah penghasil kopi ini.

Selain nama sembagi yang populer, batik ini juga disebut dengan ‘Chintz’ atau kain bermotif bunga-bunga yang berasal dari daerah pesisir Coromandel, India (Sembagi). Meskipun diperkenalkan ke publik oleh Aan, tetapi meruntut dari sejarah kabarnya motif batik yang satu ini diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Jadi pada masa itu, ornamen yang ada pada batik sembagi akan menujukkan kelas sosial atau kasta pemakainya. Kenapa India? Karena pada zaman dulu, motif bunga sembagi mulai menyebar ke seluruh daerah di pulau Sumatera dan Jawa usai ramainya pedagang tekstil dari India yang berlalu lalang kemudian ditiru oleh bangsa Arab dan China.

Lalu menyebarlah ke kota Cirebon dan Lasem. Lama-lama, batik sembagi di pulau Jawa dan Sumatera mengalami modifikasi dari segi ornamen, warna, dan penggunaan gaya garis diagonalnya. Sembagi di Lampung sering menggunakan warna merah maroon atau cerah lainnya. Sedangkan ragam hias atau ornamennya menggunakan buah-buahan atau bunga-bunga yang didasarkan pada kondisi pertanian wilayahnya sendiri. Bahkan batik ini termasuk salah satu model yang mudah digambar dengan gaya vector sekali pun.

e. Batik Siger

Batik siger adalah batik tulis tertua yang diprakarsai keberadaannya oleh Ibu Laila Al-Khusna. Beliau merupakan berasal dari Solo dan memutuskan untuk berimigrasi ke Bandar Lampung pada tahun 80’-an. Di masa kanak-kanaknya lbu Laila, orangtuanya sudah merintis usaha batik tulis dan cap lebih dulu di Kota Sukoharjo, Jawa Tengah.

Berbekal pengetahuan dan skill yang didapatnya dari orangtua, beliau pun akhirnya bertekad menghidupkan kembali sisi historis keluarganya dengan mengusung teknik serupa akan tetapi bergaya khas Provinsi Lampung. Ibu Laila pun memulainya dengan program LKP (Lembaga Keterampilan dan Pendidikan), yang mana saat itu beliau bekerja sama secara langsung dengan para partispan dari Lampung.

Mereka yang mau berpartisipasi dan terjun ke lapangan adalah kumpulan Ibu rumah tangga, para pelajar, beberapa murid dari Sekolah Luar Biasa, dan sebagian berasal dari lapisan masyarakat lain. Dalam pembuatannya, Ibu Laila membawakan motif siger. Siger adalah mahkota atau crown bagi pengantin wanita asal Lampung yang berbentuk layaknya tumpeng segitiga berwarna keemasan. Siger tersebut mempunyai cabang serta lekukan berjumlah tujuh hingga sembilan.

Benda yang sarat akan pernikahan ini bisa kita temui dengan mudah di Lampung karena memang sudah menjadi ciri khas provinsi ini. Kini eksistensi batik siger kian melejit usai memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi dan turut meramaikan beragam International event seperti di US, Russia, Turkey, Wilayah UEA, dan lainnya.

Ragam hias dalam seni rupa dapat berfungsi mengisi kekosongan suatu bidang dan juga memberi fungsi simbolis, sebagai contoh ragam hias burung dalam nekara perunggu yang mempunyai simbol sebagai arwah nenek moyang.

Ragam hias disusun dari sekumpulan pola hias, sedangkan pola hias disusun dario sekumpulan motif hias. Misalnya, motif geometris, motif manusia, motif hewan, motif tumbuhan, dan motif benda alam. Motif geometris disusun menjadi pola hias geometris, motif manusia disusun menjadi pola hias manusia, motif hewan disusun menjadi pola hias hewan, motif tumbuhan disusun menjadi pola hias tumbuhan, dan motif benda alam disusun menjadi pola benda alam.

Motif hias adalah pokok pikiran dan bentuk dasar dalam perwujudan ragam hias, yang meliputi segala bentuk alam ciptaan Tuhan, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan benda alam lainnya. Pola hias adalah unsur dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merancang suatu hiasan. Jadi, ragam hias merupakan susunan pola hias yang menggunakan motif hias dengan kaidah-kaidah tertentu pada suatu bidang atau ruang sehingga menghasilkan gambar atau bentuk yang indah dan bermakna.



Demikianlah yang dapat admin bagikan kali ini. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu Bapak/Ibu Guru dan juga anak didik dalam mencari referensi terkait dengan apa yang telah dibagikan di atas. Dan selanjutnya, apa yang sudah dibagikan di atas dapat memberikan dampak positif yang baik kepada perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami materi yang telah dijelaskan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah berkaitan dengan penjelasan di atas. Dan bagi Bapak/Ibu Guru harapannya, kiranya Bapak dan Ibu Guru selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang di dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sukses selalu buat kita semua di mana pun berada, kiranya rahmat Tuhan selalu menyertai. Sekian dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Prinsip Menggambar Ragam Hias Seni Budaya Kelas VII Revisi Terbaru

Beranda / Google.com / Google.co.id / YouTube.com / Disclaimer